Postingan

Buku Ratna: Solilokui Pandemi

Gambar
Solilokui Pandemi (2021)  

Mau Nulis Kok Susah

          Jangan salah, tidak semua penulis lancar-lancar saja dalam menghasilkan sebuah karya. Prosesnya pun bermacam-macam. Ada yang sekali duduk selesai, ada juga sampai bertahun-tahun tak kunjung selesai. Tentunya bergantung jenis tulisan apa yang sedang dikerjakan. Kalau kata narasumber-narasumber pengisi seminar, ide-ide itu sebenarnya banyak, tetapi tidak banyak yang mampu menangkapnya dengan baik. Yah, memang benar, ide itu sebenarnya sangat banyak. Bahkan bisa diciptakan sendiri. Yang tidak banyak adalah kemauan yang keras. Terkadang, musuh terbesar adalah diri sendiri. Diri sendiri yang kurang mampu melawan kemalasan. Seperti artikel yang sedang kamu baca ini. Ini adalah sebuah usaha dari penulisnya untuk menyelesaikan sebuah tenggat waktu dalam menulis. Seringkali otak dipenuhi ide-ide yang berkeliaran begitu saja. Tapi karena dibiarkan berkeliaran, yah enggak akan berkumpul jadi tulisan. Maka ide-ide itu harus ditangkap, diolah, dan diberi wadah sesuai porsinya. Mau dib

Hadirnya Bisa Kurasa

    Ada yang bilang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Mungkin bisa dibilang, aku menjadi bagian dari kebanyakan orang itu.   Bapak … aku memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Baiklah, aku bukan satu-satunya anak di keluarga ini. Menjadi seorang bungsu, nyatanya menjadi takdir yang sudah digariskan Rabb untukku. Siapa sangka, di usia yang sudah tidak lagi muda, Allah menitipkan janin di perut ibu. 22 Ramadan 1415, saat azan Magrib berkumandang, Bapak tak menyegerakan untuk berbuka puasa. Beliau bahkan mungkin lupa kalau sedang berpuasa. Bibirnya terlalu sibuk merapalkan zikir dan doa-doa untuk seorang wanita yang ia cintai, yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Dari dalam kamar dengan bantuan bidan desa, ibu sedang berjuang untuk melahirkan seorang bayi ke dunia. Tidak mudah melahirkan di usia empat puluh tahun. Dalam salatnya di ruangan sebelah, Bapak tak berhenti berdoa. Sementara itu suara perjuangan ibu tak lagi terdengar kencang. Bidan memanggi

Menjejak Kisah di Hutan Pinus

  Di balik obrolan aktif di grup media sosial yang terlihat ramai dan menyenangkan, ternyata ada hati yang saling merindu ingin bertemu. Ada ruang kosong di relung jiwa yang butuh dipenuhi dengan canda tawa, kebahagiaan, dan saling bertegur sapa secara langsung. Setahun lebih tak bisa bertemu karena pandemi, tak bisa berkegiatan normal sseperti dulu lagi, kendati kegiatan terus dilakukan meski secara daring, bertemu langsung adalah hal yang rasanya paling menyenangkan. Salah satunya bertemu dengan kawan-kawan di organisasi, Forum Lingkar Pena Surabaya. Tak hanya perihal menulis, rekreasi menjadi salah satu kegiatan tahunan yang paling ditunggu-tunggu, yah walau tetap saja nama lengkapnya adalah Rekreasi Menulis. Agenda sekali setahun yang biasanya paling dinanti. Setelah setahun kemarin semua kegiatan luring ditiadakan, tahun ini perlahan kami mulai berani aktif secara luring lagi, ya meski hanya beberapa agenda. Berkemah, sebuah usulan yang ternyata bisa diterima baik oleh kawan-k

Memaknai Estetika Literasi Berkeadaban

  Dalam memaknai literasi berkeadaban, kita meletakkan tujuan hidup terhadap keberadaban, kecerdasan lahir dan batin. Begitulah yang disampaikan oleh Dr. M. Irfan Hidayatullah dalam agenda penataran anggota madya Forum Lingkar Pena (FLP) pada Ahad, 15 Agustus 2021. Beliau menjelaskan bagaimana adab berhubungan dengan budi pekerti, kehalusan, dan yang meliputi semua itu adalah akhlak. Orang FLP sudah berkarakter dan beradab. Adab lekat dengan FLP. Sementara karakter sendiri bisa diperoleh atau dibentuk dalam keluarga, komunitas, tapi kita juga bisa mengembangkan karakter agar lebih bervariasi, tidak harus selalu kaku. Namun tetap, adab adalah hal utama. Peradaban sendiri memeiliki dua dimensi, secara lahir dan batin. Tak hanya yang terlihat tapi juga secara ruhiyah . Terdapat hubungan antara adab dan sastra. Sebab adab berkaitan dengan syariat, sastra, dan juga budaya. Berkarya adalah adab, berbakti adalah beradab, dan berarti adalah keberadaban. Ini adalah bagian dari estetika FLP ya

Bebas! Buat Resolusi Sesuka Hati

  Waktu tidak bisa diputar kembali, tetapi waktu akan terus berulang, namun tidak bisa selalu sama. Seperti ada tiga puluh hari dalam satu bulan, dua belas bulan dalam satu tahun, tujuh hari dalam satu pekan. Ada batas-batas yang akhirnya harus membuat suatu hal harus berulang, kembali pada awal. Dan kadang kita juga bisa menyebutnya sebagai rutinitas. Seperti halnya rutinitas merayakan atau memperingati sesuatu. Memperingati hari lahir, memperingati hari spesial, memperingati hari kemerdekaan, atau bahkan memperingati perayaan tahun baru. Setahun sekali orang tidak pernah lupa untuk ikut serta memperingati tahun baru. Baik tahun baru masehi maupun hijriah. Setelah itu beberapa orang akan membuat resolusi atau bisa kita anggap sebuah pengharapan akan beberapa hal agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau beberapa keinginan yang ingin dicapai di tahun yang baru.             Tidak ada salahnya membuat resolusi. Bahkan resolusi bisa menjadi pemantik semangat bagi pribadi untuk terus

Buku Ratna: Kesempatan Kedua

Gambar
Kesempatan Kedua (2021)  

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21