Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Dua Belas Hari

Oleh : Ratna W. Anggraini

Rembulan menjadi teman malam ini
Entah untuk kali yang kesekian
Suaramu tertahan di pikiranku
Terjebak dalam memori yang lama terhanyut
Terombang-ambing ketidakpastian kehidupan
Ingin aku menggenggam suaramu
Kamu ada tapi tak ada
Terlihat nyata, namun ternyata semu
Detik yang menjadi menit, lalu menjadi jam, lalu berubah menjadi hari
Berlalu begitu saja dalam ketidakmampuanku
Bayangmu tercecer diterpa angin muson dari timur
Pun bahkan hujan tak mampu menghapus jejakmu
Dua belas hari...
Rasanya tak pernah cukup
Tapi sang waktu terus menjauh
Mungkin nanti kau hanya akan temukan bingkai harapan yang tak pernah rampung kurangkai
Barangkali esok kau bisa memungutnya
Ya... memang tak terlalu indah
Hanya kumpulan airmata dan harapan dari jiwa yang kosong
Dibuat oleh tangan-tangan mungil yang terus mengais kasih sayang

Saat tiba waktuku
Aku masih ingin melihat kau melukis pelangimu
Seperti saat aku menemukan kita
Satu setengah tahun dalam kebisuan yang tak berbatas
Yang mungkin saja hanya melintas sekilas di ingatanmu

karena aku ingin kita tetap ada, bukan aku atau kamu
karena aku ingin kita tetap ada, meski dunia kita telah berbeda
karena aku ingin kita tetap ada, itulah mengapa aku menyebutmu sahabat 
untuk setetes airmata yang berharga, 11122013

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa