Posts

Showing posts from 2016

Desember

by: Ratna W. Anggraini

Sengaja aku sejenak bernapas
Mungkin untuk menetap
Atau hanya bertahan sebentar
Agar Desember yang basah
Tak terlalu dalam menanam luka

31.12.2016

Pesan Rahasia

by: Ratna W. Anggraini
Sepucuk kertas tergeletak di atas meja Hampir terbang terbawa angin Jemari lentik memungutnya "Hanya kertas kosong," katanya
Sang gadis berjilbab biru datang Menghampiri meja itu Ada guratan bekas pensil tertinggal Mengukir meja penuh bekas kopi Bertuliskan sebuah pesan
"Aku sudah mati, temukan aku! "
23.12.206

Allein

In einem Tag fließen meine Tränen reichlich.
Einmal habe ich vergessen, für was und für wen bin ich weinend.
Wie der Himmel erwatete ich einen Regenbogen, nach dem Regen kam.
Aber es stellt sich heraus meine Hoffnung vergebens.
Leichter Regen ist zunehmend.
Schwarze Wolke umkreist meine Welt.
Ich weinte härter.
Bis es sich, dass es einem schlafenden Baby schlummernde wecken kann anfühlt.

Jangan Berhenti Berdoa

Image
Selama kita masih hidup, kita harus terus berusaha. Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia. Jangan pernah katakan; "aku sudah melakukan semuanya, berbagai cara telah aku lakukan, aku sampai bingung harus ngapain lagi." Buang jauh-jauh pikiran itu. Kita manusia beragama. Kita punya Allah. Kita punya Al-qur'an sebagai pedoman hidup, dan kita masih punya sahabat untuk saling menguatkan. Buat kamu, aku, dan kita yang katanya lagi galau skripsi. Ingat! skripsi bukan akhir dari segalanya.  Katanya skripsi yang baik itu skripsi yang selesai. Iya to? Ayo sama-sama selesaikan. Rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau. Tapi untuk apa ngurusi rumput orang lain. Rumput kita sendiri yang harus kita urusi. Mau diapakan rumput ini? Mau dibiarkan tumbuh liar atau kita rawat. Ayo tentukan pilihanmu. Sing semangat yo. Mumpung masih Ramadan, ayo doa yang baik-baik. Ayo kita ulang-ulang terus doa itu. Kita tidak tahu ucapan mana yang didengar oleh langit. eling-elingen kalimat ik…

Lelaki Romantisku

Image
Dia datang menemuiku. Mengetuk pintu kamarku saat aku sedang belajar.  "Kamu butuh apa?" Katanya. Aku setengah mendelik seakan tak percaya apa yang baru saja dikatakannya. Tumben sekali. Tanpa menunggu jawaban dariku, ia menutup kembali pintu lalu pergi. Aku masih bingung. Kulanjutkan tugas mengetik sebuah naskah yang harus kuselesaikan malam itu juga. Tiba-tiba pintuku terbuka lagi. "He-he-he...", lelaki itu tertawa kecil, kemudian meletakkan segelas kopi instan rasa mocca di atas mejaku. Tentu saja sudah diseduh. Masih beruap dan panas. Wah ternyata lelaki itu tahu kesukaanku.

"He-he-he... diminum ya. Semangat bertugas!" Katanya sambil mengepal tangan kanan dan mengangkatnya tinggi-tinggi lalu keluar dan kembali menutup pintu sebelum aku sempat mengucap terima kasih. Aku tersenyum, lucu sekali tingkahnya. Lelaki itu kusebut Bapak. Kami jarang bertemu meski satu rumah. Itu hal romantis yang pernah dia lakukan padaku. Dia yang kuhormati. Dia yang kucin…

Dua Puluh Duaku Datang Hari Ini

Image
Dua puluh satu tahun yang lalu, kali pertama aku berkenalan dengan dunia. Kata Ibuk aku lahir waktu Ramadan. Tepatnya 22 Ramadan 1415 H pada 22 Februari 1995. Karena Hijriyah dan Masehi bedanya 11 hari, menurut kalender Hijriyah, Ramadan tahun ini usiaku sudah 22. Sungguh angka yang indah di bulan yang suci. Aku sangat bersyukur. Aku dilahirkan waktu orang-orang lagi buka puasa. Masih kata Ibuk, Bapakku waktu itu sampai lupa berbuka saking khawatirnya sama Ibuk. Maklum saja, saat mengandungku usia Ibuk sudah tidak muda lagi. Empat puluh tahun. Dan aku baru tahu saat kelulusan SMA kalau aku lahir di waktu Ramadan. Mengingat tidak tersematkan Ramadani, Ramadina atau Romadona di namaku. Tidak seperti kebanyakan nama orang-orang yang dilahirkan saat Ramadan. Aku dilahirkan di rumah dengan bantuan dari bidan desa. Jadi sebenarnya bidan itu datang setelah aku dilahirkan. Ibukku berjuang mempertaruhkan nyawanya dengan ditemani Bapak. Saat bidan datang, aku yang baru saja dilahirkan tidak mena…

Aku Juga Ingin Mencintainya

Image
Ada satu hal yang sangat kudambakan sampai saat ini. Ada satu doa yang kuselipkan yang belum sempat terealisasi. Percayalah, selalu kukatakan padaNya bahwa aku juga ingin mencintainya. Mencintai dia dengan sepenuh hati. Tanpa ada rasa takut ataupun was-was. Bahkan aku ingin sekali memilikinya. Tahukah engkau, betapa terkadang hati ini iri melihat mereka-mereka yang bisa dengan mudah menyayanginya, mengasihinya, bahkan mereka mampu memeluknya. Pun aku ingin seperti mereka. Bisa dengan leluasa bercanda dan bermain dengan binatang kesayangan Rasullullah itu.

Mereka bilang aku gadis manja, “kemenyek”, penakut, dan kata-kata sebangsanya, lantaran bertemu dengan seorang kucing saja air mukaku langsung berubah. Seandainya mereka tahu, betapa aku juga ingin menyanyangi. Bahkan aku juga ingin memeliharanya. Lalu siapa yang harus kusalahkan? Ketika hidung ini selalu gatal dan bersin-bersin saat di dekat kucing. Ketika kakak perempuanku juga tak bisa berdekatan dengan kucing. Hingga akhirnya di…

Belajar Mendongeng

Image
Mendongeng bersama adik-adik di sekolah inklusi Cita Hati Bunda Sidoarjo bersama Kak Utha, Mas Dudung dan Lili. Awalnya susah. Mengatur suara kecil untuk menyesuaikan dengan tubuh Lili (boneka di tanganku). Namun, berkat bimbingan Kak Utha, semua bisa diatasi. Hehe... bukankah tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini? Bahkan mie instan pun butuh proses juga untuk bisa dinikmati. Lili adalah adiknya Mas Dudung (boneka di tangan Kak Utha). Kak Utha dan Kak Ratna memainkan boneka Dudung dan Lili untuk adik-adik di Cita Hati Bunda Sidoarjo. Mereka adalah adik-adik yang luar biasa. Meski mereka memiliki keterbatasan, namun mereka tetap mau belajar dan bersemangat. Bahkan adik-adik ini ikut berpuasa loh. Puasa penuh. Hebat... *prokprokprok*
Mendongeng untuk adik-adik Cita Hati Bunda merupakan pengalaman baru bagiku, dan ternyata mendongeng itu mengasikkan. bikin nagih. Biasanya aku cuma mendongeng buat ponakan di rumah dengan mainan-mainan mereka yang seadanya. Nah, kali ini mendongeng d…

Sudahi Saja

Ketika kau diam
Aku tahu kau tak benar-benar diam Dahimu berkerut secepat hemisfer bekerja Ada banyak sel otak yang kau gunakan Namun ajaibnya, semua orang yang mengenalmu ternyata tak benar-benar mengenalmu
Apa selanjutnya yang akan kau kerjakan Masihkah kau paksakan hemisfer itu bekerja Sedang yang lain terus saja abai Kuharap kau baik-baik saja

#4 Ramadan 1437 H

Hujan yang dirindukan

Masih mampukah jatuh
Berkali-kali mengendus tanah yang basah
Merangsek pada nafas yang masih tersengal

Tuan yang di sana
Adakah hati Tuan masih membara (?)
Sudah terlampau banyak Tuan berfikir
Apakah sepotong cahaya yang mampu menghangatkan embun
Ataukah rerintik yang akan menumbuhkan pucuk-pucuk hijau itu

Adakah Tuan selalu merasa sendiri,
Adakah Tuan merasa tak pernah didengar
Buang jauh semua itu
Pucuk-pucuk yang Tuan rawat selama ini, tak akan berkhianat

Hujan datang pada bulan yang entah
Jika Tuan resah, cukup Tuan buka dan satukan kedua telapak tangan itu


Untukmu yang sedang merindukan sebuah perubahan,

#3 Ramadan 1437 H

Dakwah Dari Diri Sendiri

Tidak harus berdiri di atas mimbar. Tidak harus di dalam masjid-masjid ataupun pengajian-pengajian. Tidak harus menunggu peristiwa-peristiwa tertentu. Tapi di manapun dan kapanpun kita bisa berdakwah. Bahkan tidak harus menunggu menjadi seorang ulama kondang untuk bisa berdakwah. Sampaikan kebaikan kepada siapapun dan dimanapun. Dalam berdakwah kita tidak boleh memaksa. Yah, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mendengarkan apalagi melakukan apa yang kita katakan. Kita cukup sampaikan kebaikan dan yang paling penting berikan contoh. Jangan sampai kita memberikan sebuah nasihat yang bahkan kita sendiri belum pernah melakukannya padahal kita juga butuh nasihat itu. Islam, agama rahmatan lil alamin. Islam itu damai dan tidak memaksa. Mulailah dari sendiri. Berbuat baiklah pada dirimu sendiri, kemudian berbuat baik pada orang lain. Dakwah islam dimulai pada diri sendiri kemudian pada keluarga. “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” (At-Tahrim ayat 6). Sangat mudah…

Aku Sudah Tak Sabar Bertemu Denganmu

Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk menemuimu lagi, Ramadan ke dua puluh duaku. Ramadan bulan suci penuh ampunan. Bulan dimana aku kali pertama mengenal dunia, bertemu dengan kedua orang tua dan saudara-saudaraku. Bulan dimana segala pahala atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan olehNya. Tentu saja dosa atas keburukan juga akan ikut berlipat-lipat. Semoga kita selalu mendapat ampunan atas dosa-dosa kita.
Ramadan tahun lalu, Allah telah membuka jalan hijrahku. Entah kejutan apalagi yang akan kudapatkan di ramadan tahun ini. Pada intinya, aku bersyukur atas apa-apa yang telah diberikanNya padaku. Orang tua yang menyayangiku, kakak-kakak yang mendampingiku dan sahabat-sahabat yang kumiliki. Tak ada yang bisa kuberikan selain rasa syukurku padaNya.
Seringkali kita mengeluh atas keinginan yang belum terwujud. Namun kita lupa masih banyak yang telah kita miliki yang bekum kita syukuri. Bahkan kita seringkali lupa, bahkan sehat adalah nikmat yang ju…

Rerintikku

Hujan mengalir diam-diam
Menyeruak masuk
Menitik jendela kamarmu
Ada rindu di setiap rintiknya
yang sengaja kukirim
Untuk memadamkan percikan api di relungmu
Semoga engkau berkenan


Menanti hujan di bulan Juni, 05 Juni 2016

Berikan Jantungmu Untukku

Pelatihan Menulis Nurul Hayat Bersama Penerbit Pro-U Media

Image