Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Dua Belas (Perjalanan Tanpa Batas : Berkunjung)


#4 Berkunjung
Sekitar pukul setengah dua siang kami sampai di kediaman Mba Wuri. Beberes dan salat Dhuhur sekalian makan siang. Dengan menu soto ayam buatan Mba Wuri yang super duper lezat mampu menghilangkan rasa lapar kami seketika. Rasanya tubuhku sedikit lelah. 

Sore hari kami kedatangan tamu. Mas Aziz dan Mba Ayu beserta adiknya datang berkunjung. Mereka juga keluarga FLP yang berdomisili di Kediri. Lengkap sudah. Kami sedikit berbincang-bincang sebelum akhirnya mereka pun pamit pulang. Cepat sekali perjumpaan ini, karena masih ada agenda yang harus dilaksanakan. Selepas Maghrib, rencanya kami akan pergi ke simpang lima gumul. Ikon kota Kediri. Sebelum ke Gumul, kami akan berkunjung ke rumah Mas Aziz. Menjemput beliau untuk menemani perjalanan kami malam ini. Di rumah Mas Aziz kami disuguhi banyak sekali makanan. Aduh, kan jadi enak. Enak banget malah. Gorengan, onde-onde, juga kerupuk beserta bumbu pecelnya. Boleh dibungkus dan dibawa pulang lagi. Baik sekali Mas Aziz ini. 

Mas Aziz (ketua FLP Kediri), Mas Baim (ketua FLP Surabaya), Mas Hendro, Mas Wahyu

Di rumah Mas Aziz

Setelah berhasil menculik Mas Aziz dari rumahnya. Kami mampir sebentar di masjid Jami’ di dekat situ untuk menunaikan salat Magrib. Kemudian baru berangkat ke Gumul. Orang bilang, Gumul mirip dengan Arch de Triomphe yang ada di Paris. Anggap saja begitu. Anggap saja kita sedang di Paris. Gumul malam hari begitu indah. Bercahaya dengan adanya lampu-lampu di gelapnya malam. Ini kali kedua aku berkunjung. Sebelumnya aku pernah kemari bersama sahabatku Pipit dan tentu saja Bruno. Oh Bruno, andai saja kamu disini. Aku sudah merindukanmu.

Simpang Lima Gumul; Kediri malam hari

“Pit, kamu di Jombang kan sekarang? Tahu jalan ke Kediri gak? Ayo kita ke Simpang Lima Gumul. Aku ingin sekali kesana,” ucapku pada Pipit lewat telpon.
Saat itu aku sedang galau. Entah apa yang sedang kugalaukan. Aku lupa. He-he. Aku hanya ingin melaju sejauh-jauhnya bersama Bruno. Kupacu Bruno dari Surabaya menjemput Pipit di Jombang. Berbekal bismillah aku dan Pipit nekat ke Kediri tanpa benar-benar tahu arah. Kami hanya mengikuti petunjuk jalan dan bertanya pada orang-orang yang kami jumpai. Benar-benar nekat. Bahkan kami sempat tersesat. Meski akhirnya sampai juga di Gumul. Di Gumul kami hanya duduk, melepas canda dan tawa, bercerita, foto-foto, saling meluapkan isi hati, meluapkan masing-masing keresahan, lalu kembali pulang. Satu hari yang menyenangkan.
Malam ini, aku bertemu kembali dengan Gumul. Sekali lagi kulewati lorong-lorong yang menjadi jalan menuju ke ikon Kediri itu. di sekitar Gumul banyak sekali orang berjualan. Ah, aku lupa kalau malam ini malam Minggu. Tentu saja lebih ramai dari biasanya. Selepas dari Gumul, kami pergi ke tempat Mba Ayu, memenuhi janji untuk datang. Mba Ayu punya warung. Kami berencana untuk makan malam di sana. Menikmati bebek goreng, ayam goreng dan lele goreng yang paling enak di Kediri.  Sungguh malam yang luar biasa. Hingga sampai rumah kami istirahat begitu nyenyak. Mengingat besok paginya kami harus melanjutkan perjalanan untuk mendaki gunng wilis dan menikmati air terjun Ngelayangan, kami tak boleh tidur terlalu larut.
Selamat malam 30 Januari 2016. Semoga esok kita bisa berjumpa lagi. Tunggu aku sampai bangun dari tidurku yaaa... met bobok.

Comments

Popular posts from this blog

Sinopsis Film Pesantren Impian

Terima Kasih untuk 26 Tahun

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa