Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Dakwah Dari Diri Sendiri

Tidak harus berdiri di atas mimbar. Tidak harus di dalam masjid-masjid ataupun pengajian-pengajian. Tidak harus menunggu peristiwa-peristiwa tertentu. Tapi di manapun dan kapanpun kita bisa berdakwah. Bahkan tidak harus menunggu menjadi seorang ulama kondang untuk bisa berdakwah. Sampaikan kebaikan kepada siapapun dan dimanapun. Dalam berdakwah kita tidak boleh memaksa. Yah, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mendengarkan apalagi melakukan apa yang kita katakan. Kita cukup sampaikan kebaikan dan yang paling penting berikan contoh. Jangan sampai kita memberikan sebuah nasihat yang bahkan kita sendiri belum pernah melakukannya padahal kita juga butuh nasihat itu. Islam, agama rahmatan lil alamin. Islam itu damai dan tidak memaksa.
Mulailah dari sendiri. Berbuat baiklah pada dirimu sendiri, kemudian berbuat baik pada orang lain. Dakwah islam dimulai pada diri sendiri kemudian pada keluarga. “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” (At-Tahrim ayat 6). Sangat mudah mendengarkan dakwah, cukup duduk anteng dan jangan merem lalu buka telinga lebar-lebar. Tetapi sangat sulit untuk mengamalkan apa yang telah didengar. Musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya.
Sudah tepat waktukah saat salat? Terkadang kita seringkali menunda-nunda salat. Kita tidak disiplin waktu. Orang yang datang ke masjid sebelum adzan, pahalanya sebesar matahari. Orang yang datang ke masjid setelah adzan, pahala sebesar bulan. Dan orang yang datang ke masjid saat salat sedang dilaksanakan, pahalanya sebesar bintang. Ingin pahala yang manakah kamu?
Ketika kita sudah memiliki anak, keponakan, atau bahkan adik yang masih kecil, saat menyuruhnya salat, sudahkah kita memberi contoh kepadanya? Anak kecil cenderung melakukan apa yang dilihatnya bukan apa yang didengarnya.  Alangkah lebih baik kalau kita tidak hanya menyuruhnya, tetapi mengajaknya salat bersama.
Atau ketika adzan subuh berkumandang, apakah kita langsung terbangun atau justru melanjutkan tidur dan menunggu hingga fajar mulai menyembul? Hmmm... subuh atau dhuha ya.
Secara tidak sadar, seringkali kita lalai pada kewajiban yang harus kita lakukan. Di atas itu adalah sedikit contoh dakwah pada diri sendiri. Nah, ketika sudah instropeksi diri, langkah selanjutnya adalah berbagi kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Sampaikan kebaikan walau satu ayat.
Ada sebuah kisah tentang seorang sholeh yang sudah akan masuk surga tetapi batal karena anak, istri, tetangga, kerabat dan teman-temannya tidak ridho sebab orang sholeh tersebut selama di dunia hanya suka beribadah sendirian dan tidak pernah mengajak orang lain (berdakwah) untuk ikut taat kepada Allah.
Mari menebar kebaikan, selama diri ini masih diberikan kesempatan untuk bernafas.

#2 Ramadan 1437 H


Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa