Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Dakwah Dari Diri Sendiri

Tidak harus berdiri di atas mimbar. Tidak harus di dalam masjid-masjid ataupun pengajian-pengajian. Tidak harus menunggu peristiwa-peristiwa tertentu. Tapi di manapun dan kapanpun kita bisa berdakwah. Bahkan tidak harus menunggu menjadi seorang ulama kondang untuk bisa berdakwah. Sampaikan kebaikan kepada siapapun dan dimanapun. Dalam berdakwah kita tidak boleh memaksa. Yah, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk mendengarkan apalagi melakukan apa yang kita katakan. Kita cukup sampaikan kebaikan dan yang paling penting berikan contoh. Jangan sampai kita memberikan sebuah nasihat yang bahkan kita sendiri belum pernah melakukannya padahal kita juga butuh nasihat itu. Islam, agama rahmatan lil alamin. Islam itu damai dan tidak memaksa.
Mulailah dari sendiri. Berbuat baiklah pada dirimu sendiri, kemudian berbuat baik pada orang lain. Dakwah islam dimulai pada diri sendiri kemudian pada keluarga. “Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka” (At-Tahrim ayat 6). Sangat mudah mendengarkan dakwah, cukup duduk anteng dan jangan merem lalu buka telinga lebar-lebar. Tetapi sangat sulit untuk mengamalkan apa yang telah didengar. Musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya.
Sudah tepat waktukah saat salat? Terkadang kita seringkali menunda-nunda salat. Kita tidak disiplin waktu. Orang yang datang ke masjid sebelum adzan, pahalanya sebesar matahari. Orang yang datang ke masjid setelah adzan, pahala sebesar bulan. Dan orang yang datang ke masjid saat salat sedang dilaksanakan, pahalanya sebesar bintang. Ingin pahala yang manakah kamu?
Ketika kita sudah memiliki anak, keponakan, atau bahkan adik yang masih kecil, saat menyuruhnya salat, sudahkah kita memberi contoh kepadanya? Anak kecil cenderung melakukan apa yang dilihatnya bukan apa yang didengarnya.  Alangkah lebih baik kalau kita tidak hanya menyuruhnya, tetapi mengajaknya salat bersama.
Atau ketika adzan subuh berkumandang, apakah kita langsung terbangun atau justru melanjutkan tidur dan menunggu hingga fajar mulai menyembul? Hmmm... subuh atau dhuha ya.
Secara tidak sadar, seringkali kita lalai pada kewajiban yang harus kita lakukan. Di atas itu adalah sedikit contoh dakwah pada diri sendiri. Nah, ketika sudah instropeksi diri, langkah selanjutnya adalah berbagi kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Sampaikan kebaikan walau satu ayat.
Ada sebuah kisah tentang seorang sholeh yang sudah akan masuk surga tetapi batal karena anak, istri, tetangga, kerabat dan teman-temannya tidak ridho sebab orang sholeh tersebut selama di dunia hanya suka beribadah sendirian dan tidak pernah mengajak orang lain (berdakwah) untuk ikut taat kepada Allah.
Mari menebar kebaikan, selama diri ini masih diberikan kesempatan untuk bernafas.

#2 Ramadan 1437 H


Comments

Popular posts from this blog

Sinopsis Film Pesantren Impian

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa