Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Dua Puluh Duaku Datang Hari Ini

Dua puluh satu tahun yang lalu, kali pertama aku berkenalan dengan dunia. Kata Ibuk aku lahir waktu Ramadan. Tepatnya 22 Ramadan 1415 H pada 22 Februari 1995. Karena Hijriyah dan Masehi bedanya 11 hari, menurut kalender Hijriyah, Ramadan tahun ini usiaku sudah 22. Sungguh angka yang indah di bulan yang suci. Aku sangat bersyukur. Aku dilahirkan waktu orang-orang lagi buka puasa. Masih kata Ibuk, Bapakku waktu itu sampai lupa berbuka saking khawatirnya sama Ibuk. Maklum saja, saat mengandungku usia Ibuk sudah tidak muda lagi. Empat puluh tahun. Dan aku baru tahu saat kelulusan SMA kalau aku lahir di waktu Ramadan. Mengingat tidak tersematkan Ramadani, Ramadina atau Romadona di namaku. Tidak seperti kebanyakan nama orang-orang yang dilahirkan saat Ramadan.
Aku dilahirkan di rumah dengan bantuan dari bidan desa. Jadi sebenarnya bidan itu datang setelah aku dilahirkan. Ibukku berjuang mempertaruhkan nyawanya dengan ditemani Bapak. Saat bidan datang, aku yang baru saja dilahirkan tidak menangis, tubuhku bewarna ungu. Kaku. Semua orang takut. Apalagi Ibukku. Bidan itu kemudian menggendongku, memukul-mukul tubuhku agar menangis. Akhirnya setelah beberapa menit, tangisan pertamaku menggemparkan orang serumah. Bahkan para tetangga yang ikut menyaksikan saat itu ikut mengangis haru. Alhamdulillah, sejak tangisan pertama yang  tak pernah bisa kuingat itu, sampai sekarang Allah masih mengizinkanku untuk menghuni bumiNya.
Itulah mengapa hari Ini Ibu menyuruhku pulang ke rumah, untuk sekadar mengecup keningku dan mengucapkan selamat hari lahir. Hal romantis untuk kali kesekian yang kudapatkan dari Ibuk. Ibuk yang tak pernah mengharapkan apa pun atas segala pemberiannya untukku dan saudara-saudaraku. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau, memberikan kesehatan dan kebahagiaan untuk beliau. Aamiin.
 
#22 Ramadan 1437 H

Comments

Popular posts from this blog

Sinopsis Film Pesantren Impian

Terima Kasih untuk 26 Tahun

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa