Posts

Showing posts from March, 2017

Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal Akhirat?

Barangsiapa mendatangi majlis taklim, maka akan  dimintakan ampun oleh malaikat.  Datangilah dan pelajarilah ilmu-ilmu dengan baik, agar hidup kita lebih bermanfaat. Jangan takut kehilangan. Jika kita kehilangan sesuatu, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Banyak ibrah yang kita dapatkan jika kita ikhlas. Cuplikan buku karangan Permadi Ali Basha. Buku ini ditulis dan didedikasikan untuk putri-putrinya. Anakku, ayahmu bukan ahli bahasa Arab atau ahli 14 ilmu.   Ayah hanya ayah biasa yang mengembara mengumpulkan ilmu. Mudah-mudahan kau bisa menyelami ilmu-ilmu. Rasulullah orang yang paling bijak di muka bumi ini telah bercerita (HR Bukhari). "Saya (rasulullah) pernah da tang ke surga kebanyakan fakir miskin. Dan saya mengunjungi neraka, kebanyakan penghuninya adalah perempuan." Sebagai wanita, kita harus waspada. Sebagai hamba Allah kita harus punya pedoman (Alquran dan Al Hadits).  Kita harus merenungi Alquran ketika kita harus

Sepotong Hati

by: Ratna W. Anggraini Segaris senyummu Membekas telanjur dalam Kala mata merajut pandang Hati terhanyut memecah pundi-pundi sepi Setitik rasa berhasil memantik Sepotong hati yang perlu dijaga Wujudmu berhasil melintasi selasar pikirku hingga Tuhan berkata untuk berhenti Mengapa tak kita sudahi Berhenti menjadi bayangan Sebab bukan itu yang kuingin 14 Maret 2017

Oleh-oleh dari Ustad Salim A. Fillah

Kendati datang terlambat karena baru selesai ngajar bahasa Jerman setengah delapan malam, alhamdulillah masih bisa ngikuti ceramah ustad Salim A. Fillah di Masjid Al Falah Surabaya. Beberapa yang bisa saya tangkap yaitu penjelasan beliau tentang perang Uhud. Tentang perang Uhud dan beberapa pelajaran dari perang uhud. Di dalam perang uhud ada dua cacat yang ada di dalam barisan kaum muslimin, dan dua cacat ini tidak ada di dalam perang badar. Dan dua cacat inilah sebab kekalahan di dalam perang uhud, yang kalau kita mau bertadabbur, maka sampai kapan pun kaum muslimin, orang-orang yang beriman ini akan berada dalam suasana kehinaan dan kekalahan, ketika dua perkara ini masih menjadi keinginan. Yang pertama yaitu, ketika hati lebih condong kepada kepentingan-kepentingan duniawi. Sedangkan yang kedua adalah bermaksiat, mendurhakai Allah dan RasulNya. Mana yang lebih dulu, maksiat hati atau maksiat anggota badan? Ketika hati sudah takut bermaksiat maka ia akan takut bermaksiat pada an

Ukhty, Jangan Gegabah

by: Ratna W. Anggraini Kau baru saja kenal rasa Lalu kau cepat bercerita Kau ungkap yang bergemuruh ke segala arah Lalu kemudian tak bersuara Ukhty, jangan gegabah Kau pikir itu cinta? Jangan kau umbar yang belum pasti ada Bisa jadi itu penyakit asmara Ada yang bilang, setan ada di setiap langkah Tapi tak bisa serta merta itu salahnya Ketika kau tak bisa menahan cerita Apalagi cinta Ukhty, jangan gegabah Ada izzah yang harus kau jaga

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa