Oleh-oleh dari Ustad Salim A. Fillah

Kendati datang terlambat karena baru selesai ngajar bahasa Jerman setengah delapan malam, alhamdulillah masih bisa ngikuti ceramah ustad Salim A. Fillah di Masjid Al Falah Surabaya.
Beberapa yang bisa saya tangkap yaitu penjelasan beliau tentang perang Uhud. Tentang perang Uhud dan beberapa pelajaran dari perang uhud. Di dalam perang uhud ada dua cacat yang ada di dalam barisan kaum muslimin, dan dua cacat ini tidak ada di dalam perang badar. Dan dua cacat inilah sebab kekalahan di dalam perang uhud, yang kalau kita mau bertadabbur, maka sampai kapan pun kaum muslimin, orang-orang yang beriman ini akan berada dalam suasana kehinaan dan kekalahan, ketika dua perkara ini masih menjadi keinginan.
Yang pertama yaitu, ketika hati lebih condong kepada kepentingan-kepentingan duniawi. Sedangkan yang kedua adalah bermaksiat, mendurhakai Allah dan RasulNya.

Mana yang lebih dulu, maksiat hati atau maksiat anggota badan?
Ketika hati sudah takut bermaksiat maka ia akan takut bermaksiat pada anggota tubuh.
Manusia berlomba-lomba memperindah wajahnya, lupa memperindah hatinya.
Ada yang awalnya hatinya baik, namun belum bisa istiqomah. Masih mudah terpengaruh perbuatan buruk dari orang lain.
Ketika manusia menyimpang, maka Allah semakin menjauhkan mereka dari kebenaran. Naudzubillah.
Ada banyak tipe manusia di dunia ini. Ada orang hatinya gembira, wajahnya senyum-senyum terus.
Tapi sebaliknya ada orang yang belajar tersenyum, lama-lama hatinya mudah bahagia. Ada sesuatu yang dianggap sederhana bagi orang lain, tapi bagi sebagian orang bisa membuat ia bersyukur berkali-kali lipat.
Kalu hatinya sudah terpaut hanya pada dunia, maka seperti apa pun yang dilakukan, penanda kekalahan. Semua akan runtuh.
Cordoba hancur setelah membangun istana.
India jatuh, setelah membangun taj mahal.

Kalau hati sudah tidak takut pada Allah, iya akan mengikuti hawa nafsunya. Ia akan melampaui batas.

Catatan ini masih belum semua. Tapi insyaAllah bermanfaat.
Ada dua hal istimewa saat mengikuti kajian ini kemarin malam.
Saya ketemu adik shalihah yang sudah lama tak bersua. Dia duduk di depan saya. Sesaat kemudian, tiba-tiba dia izin pinjam jaket saya sebentar lalu dikembalikan lagi. Saya heran. Tapi saya masih biasa saja, masih menyimak ceramah ustad Salim. Kemudian dia menoleh ke saya lagi, "Mbak, cek pesan di ponsel."
Saya kemudian beralih pandang ke ponsel, membuka pesan darinya yang berbunyi "Mbak, aku taruh sesuatu di jaketmu."

Sambil melihatnya, saya mencari sesuatu itu. Membolak-balik jaket dan menemukan bungkusan kado berbentuk kotak.
"Apa ini?"
"Buat kamu." sambil ia tersenyum manis.
"Alhamdulillah, makasih ya."
Kemudian kami khusyuk kembali dalam ceramah.
Sampai ceramah selesai, saya pulang. Di teras masjid saya ketemu kakak baik, yang juga sudah lama gak ketemu. Kami berbincang sebentar di dekat bazar buku yang digelar.
"Oh ya Dik, ini buat kamu. Hadiah dari Kakak. Teruslah berbuat baik di mana pun, kapan pun, dan pada siapa pun." Itulah pesan sang kakak baik kepada saya sambil menyerahkan buku karangan ustad Salim dan Ustad Felix Siaw yang terbaru "Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku".

Barakallah.
Terima kasih, Yaa Rabb.
Terima kasih, Ukhty ukhty.
Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Sesampai di rumah saya membuka bungkusan kado dari sang adik baik.
MasyaAllah, isinya buku berjudul "Meneladani Sholat dan Wudhu Nabi".
Barakallah. InsyaAllah bermanfaat.
Padahal kami tidak janjian ketemu. Tapi Allah mempertemukan kami dalam keadaan baik.

Meski pulang basah kuyup, alhamdulillah penuh berkah. Hujan pembawa berkah.

Catatan Ratnawa, 11 Maret 2017

Comments

Post a Comment

Hai, Kawan. Kamu bisa tinggalkan komentar, bila kamu suka tulisan ini yaaa ... :) Terima kasih sudah membaca.