Posts

Showing posts from July, 2017

Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Affatul Lisan (Bahayanya Lisan)

Hal-hal yang berkaitan dengan lisan yang berbahaya 1. Ungkapan yang tidak berguna (latah) 2. Berbicara yang berlebihan 3. Ungkapan yang mendekati kebathilan dan maksiat 4. Bercanda dan bersenda gurau yang berlebihan 5. Ungkapan yang menyakitkan 6. Melaknat 7. Bernyanyi dan bersyair 8. Membocorkan rahasia 9. Ghibah (menceritakan keburukan orang lain) 10. Sanjungan yang menjerumuskan Setiap perkataan ada malaikat yang mencatat (surat Al Kahf 18) Celakalah ia yang berbohong hanya ingin membuat orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia. (Lihat Al Isra 53) Kita masuk surga bukan karena ibadah, tapi karena rahmat Allah. Ketika laknat dilepaskan, dia akan mencari sasarannya, kalau ia (laknat) tak menemukan sasarannya, ia akan kembali ke orang yang melaknat.

Sekecil Sepi di Ujung Pagi

by: Ratna W. Anggraini Sepi menari di ujung pagi Sendiri Tak berkekasih Masih ada geliat sisa mimpi Di pelukan mentari ramah pada hari yang tak bernama meninggalkan bekas senyum tanpa setitik rasa Masih pagi Aku dikunjungi sepi Seorang diri Lalu mati

Merapikan Harapan

by: Ratna W. Anggraini Betapa pandir diriku melupa saat bahagia berserah kala berduka mengira keyakinan tak dapat berubah Aku berserah di antara dua bintang yang terang Menggantungkan harapan pada bulan yang sabit Tubuh ini gigil merasa cinta yang memanggil mengantar harapan untuk sedikit dirapikan

Ajak Aku Berhijrah

by: Ratna W. Anggraini Banyak jalan telah kutempuh pun banyak liku yang beradu Kau tahu bagaimana masa laluku menjelang sore aku berlalu mencari dirimu Lalu aku menemukanmu di senja yang menggantung Ajak aku berhijrah berkali kuucap pada senyummu yang hampir malam dan aku masih melihat cahaya itu di matamu Sekali lagi ajak aku berhijrah ajak aku bertemu dengannya katakan padanya bahwa kita bersama dalam halaqah yang sama

Pemberi Janji

by:  Ratna W. Anggraini Tuhan memberiku sepotong hati Bukan untuk kau sakiti Kau datang dengan berbagai janji Kau tunjuk beberapa bukti Akhirnya hatiku terpatri Suatu ketika aku mengadu padaNya sepenuh jiwa dan raga Namun aku semakin hilang rasa Kau hilang tiba-tiba Aku mengadu Engkau menjauh Dimana, aku tak tahu Kulempar dadu Mencari kemana arahmu Apakah aku telah tertipu Tuhan menuntunku pelan Tapi aku tak kunjung tersadarkan Rasanya semua pahit telah kutelan Tak pantaskah sekarang bahagia kudapatkan Kepada sepotong hati di negeri kakek Hitler 7. 10. 2017

Dendam Rindu

 by:  Ratna W. Anggraini Jelaga bertubi menutup wajah Tersembunyi senyum tanpa suara Pada api ia tinggalkan segenggam rasa Lewat sulur yang membuatnya padam Dendam redam dan Boom Detak jantung semakin kencang Disaksikan setengah hati yang masih pantang Detik berdetak pula Seirama Rindu yang masih menggebu Tidak tahu pada siapa harus berlabuh Sebab biru telah abu-abu

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa