Posts

Showing posts from July, 2017

Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Affatul Lisan (Bahayanya Lisan)

Hal-hal yang berkaitan dengan lisan yang berbahaya 1. Ungkapan yang tidak berguna (latah) 2. Berbicara yang berlebihan 3. Ungkapan yang mendekati kebathilan dan maksiat 4. Bercanda dan bersenda gurau yang berlebihan 5. Ungkapan yang menyakitkan 6. Melaknat 7. Bernyanyi dan bersyair 8. Membocorkan rahasia 9. Ghibah (menceritakan keburukan orang lain) 10. Sanjungan yang menjerumuskan Setiap perkataan ada malaikat yang mencatat (surat Al Kahf 18) Celakalah ia yang berbohong hanya ingin membuat orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia. (Lihat Al Isra 53) Kita masuk surga bukan karena ibadah, tapi karena rahmat Allah. Ketika laknat dilepaskan, dia akan mencari sasarannya, kalau ia (laknat) tak menemukan sasarannya, ia akan kembali ke orang yang melaknat.

Sekecil Sepi di Ujung Pagi

by: Ratna W. Anggraini Sepi menari di ujung pagi Sendiri Tak berkekasih Masih ada geliat sisa mimpi Di pelukan mentari ramah pada hari yang tak bernama meninggalkan bekas senyum tanpa setitik rasa Masih pagi Aku dikunjungi sepi Seorang diri Lalu mati

Merapikan Harapan

by: Ratna W. Anggraini Betapa pandir diriku melupa saat bahagia berserah kala berduka mengira keyakinan tak dapat berubah Aku berserah di antara dua bintang yang terang Menggantungkan harapan pada bulan yang sabit Tubuh ini gigil merasa cinta yang memanggil mengantar harapan untuk sedikit dirapikan

Ajak Aku Berhijrah

by: Ratna W. Anggraini Banyak jalan telah kutempuh pun banyak liku yang beradu Kau tahu bagaimana masa laluku menjelang sore aku berlalu mencari dirimu Lalu aku menemukanmu di senja yang menggantung Ajak aku berhijrah berkali kuucap pada senyummu yang hampir malam dan aku masih melihat cahaya itu di matamu Sekali lagi ajak aku berhijrah ajak aku bertemu dengannya katakan padanya bahwa kita bersama dalam halaqah yang sama

Pemberi Janji

by:  Ratna W. Anggraini Tuhan memberiku sepotong hati Bukan untuk kau sakiti Kau datang dengan berbagai janji Kau tunjuk beberapa bukti Akhirnya hatiku terpatri Suatu ketika aku mengadu padaNya sepenuh jiwa dan raga Namun aku semakin hilang rasa Kau hilang tiba-tiba Aku mengadu Engkau menjauh Dimana, aku tak tahu Kulempar dadu Mencari kemana arahmu Apakah aku telah tertipu Tuhan menuntunku pelan Tapi aku tak kunjung tersadarkan Rasanya semua pahit telah kutelan Tak pantaskah sekarang bahagia kudapatkan Kepada sepotong hati di negeri kakek Hitler 7. 10. 2017

Dendam Rindu

 by:  Ratna W. Anggraini Jelaga bertubi menutup wajah Tersembunyi senyum tanpa suara Pada api ia tinggalkan segenggam rasa Lewat sulur yang membuatnya padam Dendam redam dan Boom Detak jantung semakin kencang Disaksikan setengah hati yang masih pantang Detik berdetak pula Seirama Rindu yang masih menggebu Tidak tahu pada siapa harus berlabuh Sebab biru telah abu-abu

Popular posts from this blog

Sinopsis Film Pesantren Impian

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Menguak Rahasia Sepasang Kaos Kaki Hitam