Ghuroba, Asing di Dunia, Mulia di Akhirat


Oleh: Ratna W. Anggraini 

Islam datang asing dan akan kembali asing. sumber ketaatan adalah Allah. Semua urusan akan kembali pada Allah. Allah pasti menolong orang-orang yang istimewa itu tadi, orang-orang yang bergantung hanya padaNya. Hadapi segala kejadian dengan pandangan yang positif. Kejadian buruk bukan berarti kesialan. Kejadian baik bukan berarti selalu keberuntungan. Karena setiap kejadian sudah memiliki porsi, hidayah dan tugasnya masing-masing saat datang menemui kita. Seperti nasihat-nasihat yang sering kita dengar, selalu ada hidayah di setiap kejadian. Meski pada suatu masa, terkadang hidayahlah yang justru harusnya kita jemput, saat dirasa ia tak mendatangi kita. Berusalah untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, karena Dialah Sang Maha tahu. 

Ada sebuah kisah, seorang sahabat anshor yang sedang berdagang. Di tengah perjalanan ia dihadang kawanan perampok. Seluruh harta benda dan daganannya dikuras habis oleh kawanan perampok itu. Pedagang hanya seorang diri. Kawanan perampok itu bahkan hendak membunuh sang pedagang. Di saat seperti itu tak ada ssseorangpunang bisa menolong sang pedagang, kecuali Allah. Ketika hendak dibunuh,  sang pedagang mengajukan permintaan terakhir. 
"Izinkanlah saya menunaikan sholat dua rakaat saja."
Kawanan perampok itu berunding. Kemudian memutuskan mengabulkan permintaan sang pedagang. Menurut perampok, hal tersebut bukan kegiatan yang mengancam mereka, akhirnya diizinkan. 

Dalam sholatnya, pedagang itu menangis dan berdoa pada Allah. 
"Tak ada yang menolongku selain Engkau Ya Allah. Selamatkanlah aku." Ia begitu yakin luar biasa pada Allah. 

Di saat-saat terakhir, datang seseorang berbaju besi, menaiki kuda dan membawa pedang. Orang itu membunuh para perampok sementara sang pedagang masih menunaikan sholatnya. Saat sang pedagang mengakhiri sholatnya, selesai salam ia kaget mendapati semua perampok itu meninggal dunia. Ia melihat orang yang telah menolongnya kemudian menanyakan siapakah orang itu. Seseorang itu berkata, "Aku adalah malaikat dari pintu langit ketiga, yang diutus Allah untuk menolongmu."

Kalau kita yakin pada Allah, percaya pada Allah, memantapkan iman dan bergantung hanya pada Allah. Allah pasti menolong. Pasti. Sehingga dalam memegang ketaatan kepada Allah, hendaknya kita juga menyampaikan ilmu kita kepada orang lain. Keimanan kita jangan hanya untuk pribadi, tapi sampaikanlah. 

Ketika Rasul berdakwah di Thaif, Rasul dilempari batu, kotoran, bahkan dicaci maki. Tapi karena ketaatan beliau, Rasul malah berdoa untuk mereka. Sampai-sampai Jibril gemas, karena Rasul begitu baik pada orang-orang yang telah mendzoliminya. Jibril menawarkan untuk membumihanguskan mereka, tapi Rasul menghalangi. Jangan... Rasul justru mendoakan mereka dan sabar. Jibril (malaikat) sampai kalah sabar dari Rasulullah. 

Jadi jika kita merasakan sakit saat ini, itu belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang dirasakan Rasulullah. Kalau kita merasa sudah mengeluarkan banyak harta untuk dakwah saat ini, itu belum apa-apa dibanding harta Khadijah yang sebanyak 2/3 kota Mekkah yang digunakan untuk dakwah. Pengorbanan Rasulullah sangat luar biasa. Jadi bahagialah menjadi orang asing di zaman sekarang ini. Asing karena ketaatan kita kepada Allah. 

Seorang sahabat pernah bertanya, "Ya Rasulullah, siapakah ummat yang terbaik?"
Rasul menjawab, "...adalah ummat yang tidak pernah bertemu Rasulullah dan para sahabat tapi keimanannya bisa sama bahkan lebih."
Maka bahagialah menjadi Ghurobah. Asing karena perbedaan keimanan, bukan yang ekslusif. Jangan berhenti berdakwah meski kita hanya mendapatkan penolakan. Dakwah itu sampaikanlah dengan baik. 

Satu lagi kisah tentang Mus'ab bin Umar, salah satu pemuda kaya raya di Makkah. Keluarganya berlimpah harta. Dia tampan dan suka bersolek. Bahkan ketika berjalan wewangiannya kemana-mana. mus'ab sangat dekat dengan ibunya. Tapi ketika dia akhirnya memutuskan untuk berhijrah, ibunya menolak. Ia bahkan diusir dari rumah. Tapi apakah dia membenci ibunya? Tidak, dia tetap membina hubungan baik dengan ibunya. Ia tetap berdakwah dengan cara yang baik kepada ibunya, dengan cara-cara halus dan  tidak melanggar aqidah. Dia tidak berhenti berdakwah. Hingga akhirnya Mus'ab bin Umar diutus menjadi duta umat Islam pertama di Madinah. Kita bahkan kita sering mendengar, bahwah justru kadang berdakwah di keluarga sendiri jauh lebih susah. Maka tetaplah berdakwah, sebanyak apa pun penolakan yang kita terima. Jangan pernah berhenti berbuat kebaikan. Seperti kata Imam Syafi'i;
"Jika kamu ada di jalan yang benar menuju Allah, berlarilah. Jika itu berat untukmu, berlari-lari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Dan jika kamu tidak bisa, merangkaklah, tapi jangan berhenti ataupun berbalik arah."


Surabaya, 9 September 2017.

Comments