Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

20 Menit Terakhir, Lakukan atau Menyesal!


Di detik-detik terakhir Reading Challenge (RC), 20 menit ini sangat berharga. Tepatnya kemarin diumumkan bahwa RC kurang sehari lagi. Tapi target belum juga terpenuhi. Di kelas Super Reader paling tidak dalam waktu 60 hari harus dapat di atas 10.000 halaman lah. Sedangkan angka masih stagnan di angka 9000an. Kemarin-kemarin ke mana aja? Ngapain aja? Ya saya baca kok, tapi ya sehari cuma sanggup satu sampai dua buku aja. Sehari cuma sanggup 200-300 halaman saja. Saya kan sibuk, harus ngajar, menyiapkan materi dan soal untuk kelas esok hari, mengoreksi tugas, belum lagi masalah organisasi. Peserta lain juga ada yang pengajar loh, tapi masih bisa sesuai target. Aih, benar sekali, semua itu sebenarnya hanya alasan saja. Bisa saja saya meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca, nyatanya mata saya lebih sering menatap layar ponsel. Buka tutup instagram kepo-kepo sana-sini, balesi chat di whatsapp, chatting-chatting gak jelas di line dan telegram. Tuh kan, kebanyakan sosial media. Hidup kamu maya banget sih Na. Untung facebook saya sudah semi inaktif, twitter udah dihapus, haha. 

Baiklah, balik ke dua puluh menit berharga. Apa yang terjadi  dengan dua puluh menit terakhir saya di RC? Alhamdulillah ya semesta mendukung, Rabu kemarin jadwal ngajar hanya sebentar, Allahu Akbar, di hari terakhir ini saya menargetkan 1000 halaman dalam satu hari. Dalam hati berkata, sanggup gak ya? Sukanya the power of deadline kok emang, dasar!  Coba aja dah dulu. Sampai di rumah, masuk kamar langsung bertapa. Bismillah satu buku dulu, setengah jam kemudian keluar kamar ambil cemilan, baca lagi. Setengah jam kemudian keluar lagi ambil cemilan lagi, baca lagi. Nah, kok banyak nyemilnya sih. Sudah baik saya gak ketiduran di tengah-tengah halaman. Oke serius sekarang, dalam tiga jam, saya ternyata mampu menghabiskan dua buku dengan dua toples cemilan. Wkwk. Hampir setengah hari saya di kamar. Untungnya ada ibuk yang masih mau menengok, sekadar mengingatkan sholat, makan, dan ... “Nak, kamu gak lupa caranya bernapas kan? Pulang cuma sebentar, sekalinya pulang, buku lagi buku lagi. Buku terus yang dibeli, Ibuk bosan lihat bajumu itu-itu mulu.” Lah si mamak mulai cemburu. Maafkan ya Buk. Sampai sore hari ternyata saya mampu baca 1000 halaman dalam satu hari, lebih malah. Dengan catatan, itu tadi ya ... gak ngapa-ngapain selain baca dan harus siap kena semprotan mamak. Ampun Buk, cuma hari ini dah, the last day soalnya. 

Di kelas RC, ada lima Ranger Reader yang masih bertahan. Satu emak-emak super, salut sama Ibu guru Umi. Tiga jofisa akhwat ketjeh; Na, Fi, dan Mbak Nikmah. Satu lagi the only man in our class, Mas Koin, eh Mas Rizal maksudnya. Di tengah kesibukan ngurusi koin dan skripsi, salut masih bisa ngikutin RC ini. Didampingi Ibu Wali Kelas yang meskipun sibuk travelling masih mau ngawal kami sampai finish, Mba Zie. Yah alhamdulillah wa syukurillah, setelah berbulan-bulan mengikuti kelas ini, akhirnya selesai juga. Kelas ini angkatan kedua, tapi sebenarnya ketiga. Karena di angkatan kedua Sofi berhasil bertahan seorang diri, Ranger mah jangan sendirian, kurang nanti kekuatannya, hehe. Jadinya dia nungguin kami berempat. Saya sendiri sebenarnya ikut angkatan kedua bareng Sofi, tapi sempat gagal kelas sekali jadi ngikut angkatan ketiga deh. Finally, bisa balik lagi jadi angkatan kedua dan bisa bertahan sampai akhir itu sebuah proses panjang yang butuh pengorbanan. Haha.

Dua puluh menit terakhir, saya masih berjuang dan super ngos-ngosan mengkhatamkan buku terakhir di kelas RC. Meninggalkan percakapan di grup whatsapp demi RC. Di detik-detik terakhir laporan, sempat ada tragedi ponsel mendadak restart, tapi untung saja masih bisa update laporan baca. Yes! Selesai juga challenge kali ini, meski belum bisa ngalahin juara bertahan angkatan pertama, Kak Ros. Saya berhasil mengumpulkan 12.593 halaman yang saya baca dalam kurun waktu 60 hari. Sebenarnya 5 menit terakir saya baca 7 halaman, maksud hati biar jangkep gitu loh, lah dalah pas laporan sinyal gak berkawan, jadi update saya masuknya pukul 06.01. Padahal batas akhir adalah pukul 06.00, hiks banget kan ya.

Jadi itulah 20 menit terakhir saya yang menegangkan di kelas RC. Saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri. Buku-buku di rak tak lagi menangis sendirian karena tak pernah ssaya sentuh. I got it, sekaligus  juga menyesali 7 halaman saya tadi itu ... huaaa.

But, terima kasih banyak RC, saya terharu. Terima kasih untuk kelima Ranger Reader di kelas RC angkatan kedua. Alhamdulillah dari kami tak ada satu pun yang gugur. Masuk lima, keluar lima. Yay! 

Comments

  1. Bener banget! Buku-buku tebal di rak, semua dilibas habis dan tak lagi menangis ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Hai, Kawan. Kamu bisa tinggalkan komentar, bila kamu suka tulisan ini yaaa ... :) Terima kasih sudah membaca.

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa