Posts

Showing posts from February, 2018

Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Untuk Ayah

Oleh: Ratna W. Anggraini Belasan tahun silam engkau putuskan pergi tanpa kata tanpa isyarat tanpa kenang saat itu usiaku masih bisa dihitung dengan jari tak paham tentang apa itu perpisahan Untuk Ayah, kau bilang akan kembali setiap sore di ambang pintu aku menanti menunjukkan diri agar mudah dikenali Lalu aku beranjak dewasa mengumpulkan semua cerita tentangmu namun tetap aku tak punya asa untuk melanjutkan mimpi bertemu denganmu Untuk Ayah, aku tak pernah melihatmu lagi sebenarnya kapan engkau kembali aku rindu aku punya banyak cerita untukmu Jl. Tunjungan, 24.2.2018

Aku, Kamu dan FLP: Kujemput Hidayah Karena MengenalMu

Image
Oleh: Ratna W. Anggraini Pernah dengar istilah “writing for healing”? Atau bahkan kamu baru membaca kalimat itu pada tulisan ini? Bagi saya kalimat tersebut benar adanya, menulis untuk penyembuhan. Apa itu artinya seseorang harus sakit dulu agar bisa menulis? Tidak! Namun ada beberapa orang yang harus berjuang untuk sembuh dengan cara menulis. Sembuh dari sakit yang kadang tak bisa terprediksi oleh dokter, sakit yang tidak bisa terlihat oleh orang lain, sakit yang seolah hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Ketika diri sendiri merasa depresi, tertekan oleh sebab tertentu yang tak ingin orang lain tahu. Sebab terkadang bila orang lain tahu, tidak akan menyembuhkan, bahkan akan menambah luka yang tak nampak tapi terasa. Mungkin hanya akan ada dua puluh persen dari orang yang berinteraksi dengan kita yang peduli, sisanya entahlah. Dari keresahan itulah sehingga menulis menjadi salah satu cara mengobati diri. Tidak banyak orang yang melakukannya. Tapi saya melakukannya.

Ukhuwah Wathaniyah Bagian dari Fitrah Manusia

#SafariSubuh #UkhuwahWathaniyah Masjid Al Falah Surabaya, 25 Jumadil Awal 1439/11.02.2018 Disampaikan oleh tuan Guru Bajang Dr. H. M. Zainul Majdi, MA (Hafiz Quran&Gubernur NTB) Diringkas semampunya oleh Ratna W. Anggraini Membangun keistiqomahan itu tidak bisa sendirian. Mari saling mengajak, menasihati, mengingatkan. Yang demikian adalah esensi amal maruf nahi munkar. Allah jadikan shubuh sebagai stimulus, bukan pada jumlah rakaatnya, tapi pada esensinya. Maknai shubuh kita sebagai inspirasi, bahwa semangat shubuh menjadi pembukaan awal semangat kita. Awal hari, awali dengan kebaikan, rawat sampai akhir hayat nanti. Di antara awal dan akhir, perbaguslah perbuatan kita. #KajianKebangsaan Ukhuwah Wathaniyah adalah bagian dari fitrah manusia. Kita punya keterikatan kepada tanah tempat kita lahir. Islam datang sesuai dengan Fitrah manusia. "Engkau Makkah adalah bumi yang paling dicintai," kata Rasul, "Tapi sayang, saya harus keluar sebentar,

Kaku

by: Ratna W. Anggraini Sekaku laku Kau dan aku Jauh terpaku Kau terpukul liku Aku terpukau Sesekali aku ingin sendiri Tak ingin diganggu meski hanya sekali Tenang saja, aku tak akan lari Apalagi jauh pergi Aku hanya sedang menekuri mimpi Meski yah sedikit ironi 10.02.2018

Bulan dan Punguk

by: Ratna W. Anggraini Sebuah punguk telah merindu bulan perlahan rasa tumbuh diiringi rinai-rinai sendu bila bulan telah izinkan ia tinggal sungguh bahagia Namun sesal menghampiri perlahan namun pasti bulan hanyalah bulan yang bersinar untuk semua tak hanya si punguk Bulan ditakdirkan terang untuk malam yang gelap malam semua orang malam yang sendu malam yang dimiliki punguk dan semua orang Bungurasih, 3 Februari 2018 kepada: Galih

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa