Posts

Showing posts from February, 2018

Untuk Ayah

Oleh: Ratna W. Anggraini
Belasan tahun silam engkau putuskan pergi tanpa kata tanpa isyarat tanpa kenang saat itu usiaku masih bisa dihitung dengan jari tak paham tentang apa itu perpisahan
Untuk Ayah, kau bilang akan kembali setiap sore di ambang pintu aku menanti menunjukkan diri agar mudah dikenali
Lalu aku beranjak dewasa mengumpulkan semua cerita tentangmu namun tetap aku tak punya asa untuk melanjutkan mimpi bertemu denganmu
Untuk Ayah, aku tak pernah melihatmu lagi sebenarnya kapan engkau kembali aku rindu aku punya banyak cerita untukmu

Jl. Tunjungan, 24.2.2018

Aku, Kamu dan FLP: Kujemput Hidayah Karena MengenalMu

Image
Oleh: Ratna W. Anggraini

Pernah dengar istilah “writing for healing”? Atau bahkan kamu baru membaca kalimat itu pada tulisan ini? Bagi saya kalimat tersebut benar adanya, menulis untuk penyembuhan. Apa itu artinya seseorang harus sakit dulu agar bisa menulis? Tidak! Namun ada beberapa orang yang harus berjuang untuk sembuh dengan cara menulis. Sembuh dari sakit yang kadang tak bisa terprediksi oleh dokter, sakit yang tidak bisa terlihat oleh orang lain, sakit yang seolah hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Ketika diri sendiri merasa depresi, tertekan oleh sebab tertentu yang tak ingin orang lain tahu. Sebab terkadang bila orang lain tahu, tidak akan menyembuhkan, bahkan akan menambah luka yang tak nampak tapi terasa. Mungkin hanya akan ada dua puluh persen dari orang yang berinteraksi dengan kita yang peduli, sisanya entahlah. Dari keresahan itulah sehingga menulis menjadi salah satu cara mengobati diri. Tidak banyak orang yang melakukannya. Tapi saya melakukannya. Ada banyak hal y…

Ukhuwah Wathaniyah Bagian dari Fitrah Manusia

#SafariSubuh #UkhuwahWathaniyah Masjid Al Falah Surabaya, 25 Jumadil Awal 1439/11.02.2018 Disampaikan oleh tuan Guru Bajang Dr. H. M. Zainul Majdi, MA (Hafiz Quran&Gubernur NTB) Diringkas semampunya oleh Ratna W. Anggraini
Membangun keistiqomahan itu tidak bisa sendirian. Mari saling mengajak, menasihati, mengingatkan. Yang demikian adalah esensi amal maruf nahi munkar. Allah jadikan shubuh sebagai stimulus, bukan pada jumlah rakaatnya, tapi pada esensinya. Maknai shubuh kita sebagai inspirasi, bahwa semangat shubuh menjadi pembukaan awal semangat kita. Awal hari, awali dengan kebaikan, rawat sampai akhir hayat nanti. Di antara awal dan akhir, perbaguslah perbuatan kita.
#KajianKebangsaan Ukhuwah Wathaniyah adalah bagian dari fitrah manusia. Kita punya keterikatan kepada tanah tempat kita lahir. Islam datang sesuai dengan Fitrah manusia. "Engkau Makkah adalah bumi yang paling dicintai," kata Rasul, "Tapi sayang, saya harus keluar sebentar, karena penduduknya mengusirk…

Kaku

by: Ratna W. Anggraini

Sekaku laku
Kau dan aku
Jauh terpaku

Kau terpukul liku
Aku terpukau

Sesekali aku ingin sendiri
Tak ingin diganggu meski
hanya sekali
Tenang saja, aku
tak akan lari
Apalagi jauh pergi

Aku hanya sedang menekuri mimpi
Meski yah sedikit ironi

10.02.2018

Bulan dan Punguk

by: Ratna W. Anggraini
Sebuah punguk telah merindu bulan perlahan rasa tumbuh diiringi rinai-rinai sendu bila bulan telah izinkan ia tinggal sungguh bahagia
Namun sesal menghampiri perlahan namun pasti bulan hanyalah bulan yang bersinar untuk semua tak hanya si punguk
Bulan ditakdirkan terang untuk malam yang gelap malam semua orang malam yang sendu malam yang dimiliki punguk dan semua orang

Bungurasih, 3 Februari 2018 kepada: Galih