Posts

Showing posts from March, 2018

Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Asyiknya Menulis Cerpen bersama GenPres Nurul Hayat

Image
Sekitar sembilan belas anak yang mengikuti kelas menulis begitu antusias, meski ada beberapa anak yang belum bisa hadir pada hari ini (25/3). Mereka yang tergabung dalam Generasi Prestasi atau yang disebut Genpres ini mengikuti pelatihan menulis secara berkala yang diadakan oleh Nurul Hayat bekerja sama dengan Forum Lingkar Pena Surabaya. Genpres merupakan program beasiswa dari Nurul Hayat yang diberikan untuk siswa-siswa dhuafa dari berbagai sekolah. Di Nurul Hayat Surabaya sendiri, salah satu program yang diberikan kepada siswa Genpres yaitu pelatihan kepenulisan ini, sangat bermanfaat untuk mengasah kemampuan dan bakat siswa.  Bersama class expert Genpres NH Kelas dilaksanakan di hari Ahad setiap pukul 9.00 sampai 11.00 WIB. Di pertemuan pertama diisi dengan pengenalan tentang kepenulisan dan buku-buku yang biasa dibaca. Pertemuan kedua sudah mulai masuk ke materi fiksi dan nonfiksi. Nah, pada petemuan ketiga ini, saya mencoba mengajak mereka yang memang sebagian bes

Berkatalah yang Baik atau Diam

Tidak semua yang kamu lihat saat itu adalah apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi kamu hanya melihat dari satu sisi. Bukankah masih ada banyak sisi yang juga harus kita perhatikan? Lalu masalahnya adalah apakah kita mampu menerima semua sisi itu dengan lapang dada. Kita masih manusia, yang masih menjadi tempat salah dan dosa. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanyalah milikNya semata, Sang Pemilik Jiwa. Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini selalu dibekali kelebihan dan kekurangan, namun kebanyakan orang terlalu fokus pada kekurangan orang lain. Pernah dengar kisah setitik noktah pada selembar kertas putih? Seorang bos tengah mengadakan tes pada para calon pegawainya. Bos itu memberikan masing-masing selembar kertas bernoktah pada calon pegawainya. Lalu sang Bos memberikan sebuah pertanyaan “Apakah yang kamu lihat pada kertas itu?” Mayoritas calon pegawainya menjawab “titik hitam”. Padahal ada yang lebih luas namun tak terlihat, yaitu kertas put

Keutamaan dan Kemuliaan Para Penuntut Ilmu

Utlubul ilmah minah mahdi illal lahdi Tuntutlah ilmu dari lahir sampai ke liang lahat. Empat keutamaan para penuntut ilmu 1. Allah akan menunjukkan jalan ke surga, dimudahkan jalannya. Katena dengan ilmu orang bisa mendapatkan dunia. Dengan ilmu orang akan lebih taat dengan Allah. Seperti ketaatan Abu Hurairah Kisah semangkuk susu abu hurairah. Abu hurairah duduk dalam keadaan perut kosong, kkemudian Rasul lewat dan melihatnya. Diajaklah abu hurairah ke rumahnya. Di rumah Rasul ada semangkuk susu.  Rasul menyuruh Abu Hurairah memanggil kaum suffah (orang yg tidak punya apa-apa yang tinggal di Makkah, kaum Muhajirin. Kaum suffah). Sami'na waatho'na, berangkatlah Abu Hurairah memanggilnya. Diberikan susu itu ke ahli suffah. 2. Disejajarkan dalam kesaksian para malaikat. (Ali imron 18) 3. Menjadi jubir untuk membantah para pendosa. Seperti Ustaz Zakir Naik dengan ilmunya, bisa mematahkan teori-teori atheis. 4. Orang yang berilmu lebih utama

Kisah Bayi Ungu Terong (part I)

Image
Sekitar 23 tahun yang lalu, ada kisah seorang bayi dilahirkan dalam kondisi tubuh yang ungu terong. Tidak menangis dan tidak bergerak. Namun sedikit bernapas. Sang Bidan memukul bayi itu, berharap suara tangisan mampu menyelamatkannya dari ambang kematian. Jantung sang bayi mulai melemah, ibunya sesenggukan dalam kelelahannya. Bidan masih tak berhenti berusaha. "Lalu setelah sekian lama, kenapa kisah itu diangkat kembali, apa yang terjadi pada sang bayi?" tanyanya padaku,  "apa yang terjadi pada bayi itu?" desaknya. Bayinya menangis. "Alhamdulillah," dia bernapas lega. Tapi sang ibu tiba-tiba merasakan mulas di perutnya. Bidan memeriksa. Ternyata masih ada satu bayi kecil lagi di perut sang ibu. Bidan memberikan bayi ungu terong kepada asistennya dan beralih menolong persalinan kedua. Butuh waktu yang sedikit menegangkan, namun bayi kedua berhasil keluar. "Apa bayinya ungu terong lagi? Apa bayinya menangis?" dia sangat penasa

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa