Berkatalah yang Baik atau Diam


Tidak semua yang kamu lihat saat itu adalah apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi kamu hanya melihat dari satu sisi. Bukankah masih ada banyak sisi yang juga harus kita perhatikan? Lalu masalahnya adalah apakah kita mampu menerima semua sisi itu dengan lapang dada. Kita masih manusia, yang masih menjadi tempat salah dan dosa. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanyalah milikNya semata, Sang Pemilik Jiwa.

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia ini selalu dibekali kelebihan dan kekurangan, namun kebanyakan orang terlalu fokus pada kekurangan orang lain. Pernah dengar kisah setitik noktah pada selembar kertas putih? Seorang bos tengah mengadakan tes pada para calon pegawainya. Bos itu memberikan masing-masing selembar kertas bernoktah pada calon pegawainya. Lalu sang Bos memberikan sebuah pertanyaan “Apakah yang kamu lihat pada kertas itu?” Mayoritas calon pegawainya menjawab “titik hitam”. Padahal ada yang lebih luas namun tak terlihat, yaitu kertas putih itu sendiri. Adalagi kisah seorang guru yang memberikan sepuluh contoh soal kepada siswanya. Sang guru menjawab dengan salah satu dari semua soal, kemudian murid-murid menertawakannya. “Kenapa kalian tertawa?” kata Sang Guru. “Jawaban nomor satu salah, Anda kan seorang guru.” Bahkan guru pun masih manusia. Di awal kita bahas, manusia tempat salah dan dosa. “Kalian menertawakan saya karena satu jawaban yang salah, padahal saya telah menjawab sembilan jawaban benar.” Begitulah sifat kebanyakan manusia, kadang suka merasa paling benar. Mudah menghakimi orang lain, hanya karena ia melihat sedikit sisi yang salah. Padahal sisi benarnya bisa jadi lebih banyak.

"Setiap orang itu unik, benarkah ia tak bisa dipahami, atau kita yang belum maksimal memahaminya."

Di era yang semakin canggih ini bahkan orang semakin mudah menyalahkan. Lewat gawai dan sosial media, seseorang bisa dengan mudah menyalurkan aspirasinya. Lewat gawai dan sosial media pula, seseorang bisa dengan mudah saling mencela. Bahkan orang-orang yang tak pernah bertatap muka bisa saling melayangkan hujatan. Kalau dulu ada yang bilang ibu tiri itu jahat, ibu kota itu kejam, kini ada yang lebih kejam dari mereka yaitu “ibu jari netizen”. Netizen adalah sebutan untuk orang-orang yang berkeliran di dunia maya. Dengan mudahnya mereka mengetik banyak hal hanya dengan kedua ibu jarinya lewat gawai dan sosial media. Bahkan berkomentar pada orang-orang yang belum pernah mereka temui apalagi mereka kenal.

Di sinilah, kita harus lebih bijak dalam bersikap. Tidak mudah percaya dan menelan mentah-mentah berita yang kita dapat. Karena bisa jadi apa yang kita terima, tidak seperti apa yang sebenarnya. Itulah pentingnya konfirmasi atau tabayyun, agar kita tidak mudah menyalahkan.

"Kalau tak bisa melihat kebaikan seseorang, jangan kabarkan keburukan tentangnya."

Ingatlah, apa pun yang kita lakukan akan ada hisabnya. Kalau belum bisa baik, setidaknya jangan ajak orang lain dalam keburukan. Teruslah berusaha menjadi baik. Berkatalah yang baik atau diam. Artinya apabila perkataanmu bisa jadi menyakiti saudaramu, lebih baik kamu diam. Sebab diammu jauh lebih berarti saat itu ketimbang banyak bicara yang tidak bermanfaat. 

*Ratna W. Anggraini

Comments