Maafkan Aku, Mbul.

Sebuah mimipi buruk menyadarkanku dari tidur. Aku tidak ingin menuliskan perihal mimpi itu di sini. Karena bila suatu saat nanti aku membaca tulisan ini lagi, biarlah aku hanya ingat telah bermimpi buruk, tanpa mengingat isi mimpinya. Ada Mbul dalam mimpiku, hingga hatiku cukup terusik tak tenang. Bersyukur azan Subuh lantas menenangkan. Segera kuambil wudu dan menunaikan kewajiban. Selepas salat kuambil ponsel dan mengirim pesan pada grup kami, setidaknya Mbul akan membaca pesanku. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Aku memberitahunya bahwa aku bermimpi buruk, itu saja. Katanya mimpi buruk tak boleh diceritakan, cukup pikirkan itu hanya bunga tidur dan lekas lupakan. 

Seperti biasa, aku berangkat kerja. Dan kebetulan sekali aku ada tugas ke luar kota. Tugas ke luar kota mengharuskanku lebih sibuk dari biasanya. Tak banyak waktu untuk mengecek ponsel. Menjelang siang, aku mendapat pesan dari Mbul. Sambil bekerja, aku mengusahakan tetap membalas pesannya. Namun percakapan melalui pesan itu berakhir dengan sebuah perdebatan yang cukup serius. Aku bahkan tidak ingat kapan kali terakhir kami berdebat seperti ini. Barangkali ini adalah perdebatan pertama kami. Padahal dua hari lagi, kami akan melakukan perjalanan bersama yang sudah direncanakan dengan baik. Aku tidak akan menuliskan juga perihal masalah kami pada tulisan ini. Pekerjaan yang begitu banyak begitu menekanku, ditambah panasnya siang hari itu. Tanganku ini dengan ringan dan tak sadar mengetik beberapa kalimat yang mungkin bisa menyakiti hatinya. Otakku saat itu tak berpikir panjang, baru bisa kucerna percakapan kami malam harinya setelah aku sampai di rumah. Aku tahu aku salah--benar-benar salah. Kami sama-sama dipenuhi amarah saat itu.

Kali ini, aku ingin menuliskan keresahanku. Dia tak lagi membalas pesanku. Rasanya hatiku sudah tak karuan, bulir-bulir bening memaksa keluar dari tempatnya. Semoga besok hatinya sudah baik-baik saja. Ah begini rasanya pesan tak berbalas dari seorang terkasih, meskipun sudah dibaca. Biasanya aku yang sering menerima banyak keluhan dari orang-orang, "Na kalau balas lama, kalau balas singkat, cuma ya, ok, sip, gitu doang". Sudah sejak SMP keluhan macam itu bertahan sampai sekarang. Yah memang begitulah apa adanya aku. Namun percayalah, pasti kusempatkan untuk membaca dan membalas pesan kalian. Walaupun kebanyakan masih sering tidak puas dengan jawaban-jawaban dariku. Tak apa, aku tak menuntut semua orang untuk menyukai diriku. Sudah sedari kecil hati ini ditempa untuk siap dibenci, tapi jangan sampai membenci. Sudah sedari kecil telinga ini tak lagi asing dengan caci maki, dan aku akan tetap berdiri tegak selama yakin aku benar. Yah tak semua yang kulakukan kadang benar, maka jangan sungkan menasihatiku. Aku bukan orang baik. Bahkan sampai sekarang aku pun masih terus belajar bagaimana caranya menjadi baik. Susah sekali jadi baik, ada aja tantangannya. Tapi bukan berarti tidak bisa kan.

Aku benar-benar resah. Oh, Mbul. Bagaimana kondisi hatinya saat ini. Aku rasa aku telah membuatnya sedih, kecewa, mungkin bahkan dia akan berpikir aku jahat, dan tidak pengertian. Namun sebenarnya aku sangat menyayanginya. Aku takut dia menangis dan terjebak kemarahan yang sia-sia. Aku tidak pernah berani mengatakan secara langsung padanya seberapa besar aku menyayanginya. Bila aku boleh membela diri, semua yang kulakukan sebenarnya untuk kebaikannya. Kebaikan kami semua. Namun aku mungkin juga salah, tidak mencoba memahami dari sudut pandangnya. Kami hanya sedang sama-sama belajar, saling menjaga, dan berusaha selalu terbuka menerima kritik, juga saling mengingatkan. Semoga kesalahpahaman di antara kami lekas berakhir. Dan Mbul sahabatku semoga dia juga baik-baik saja. Hatinya harus baik-baik saja. Mbul adalah orang baik, aku percaya dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Dia tidak pernah mengecewakanku. Justru aku yang sering mengecewakannya, sering membuatnya bersedih dan menangis.

Mbul, bila engkau membaca tulisan ini... terima kasih atas persahabatan kita. Maaf sudah membuatmu menangis. Aku hanya ingin... kita bisa bersahabat selamanya. Sahabat sesurga, yang mana di akhirat nanti kita bisa bersama-sama menuju surga-Nya. Dan dengan senyum indah kukatakan pada semuanya... "dia adalah sahabatku".

Aku bukan teman yang sempurna, tapi setidaknya aku masih percaya, apa pun yang terjadi... aku akan selalu menjadi temanmu, sahabatmu. Mbul, aku menyanyangimu dalam keadaan apa pun. 

Tidak apa kalau seandainya masih belum mampu memafkanku. Akan kutunggu sampai semua kembali seperti apa adanya. Aku hanya berharap dia tak lagi menyimpan amarah di hatinya. Gemetar jemari ini rasanya, hati tak karuan dicuekin olehnya. :( cerobohnya aku.


~ maaf.

Comments