Menuju Blitar: Bersama, Kami Tak Gentar


Bagian Satu


Hampir setiap tahun, Forum Lingkar Pena Surabaya mengagendakan rekreasi menulis. Dan sejak aku bergabung menjadi bagian dari keluarga ini, rasa-rasanya aku belum pernah absen mengikuti agenda yang satu ini. Dari yang tujuannya dekat hingga yang jauh. Dari yang ikut hanya beberapa, hingga akhirnya menjadi banyak. Bagi sebagian orang, setiap perjalanan selalu menarik sekalipun kembali mengunjungi tempat yang sama. Momen dan orang-orang yang bersama kita saat itulah yang memberi kesan yang luar biasa. Ibaratnya bukan ke mananya, tapi dengan siapa, hehe. Namun bagiku, tak masalah mau bepergian sendiri atau rame-rame, asalkan bisa menikmatinya dengan maksimal. Asalkan bisa sejenak meluruhkan beban-beban yang mengganggu pikiran. Kali ini kesenanganku tak kubiarkan sendiri. Bersama keluarga kecil ini, akan kumaksimalkan bahagiaku. Yeah!

Rencana tak lagi jadi wacana, selalu saja ada orang-orang di balik layar yang dengan sepenuh jiwa raga menyiapkan perjalanan ini. Alih-alih menggugurkan kewajiban melaksanakan program kerja yang dinanti-nanti, mereka dibuat bingung dengan dua pilihan. Bromo atau Blitar. Yap, merekalah, divisi kaderisasi yang tercinta. Adalah Ihdina, Mak Karya yang bertransformasi menjadi kepala divisi kaderisasi. Sahabatku satu ini, bertugas menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk rekreasi menulis. Dibantu dengan timnya, mereka berpikir keras akan ke manakah rekreasi menulis tahun ini. Bromo tentu saja menarik, Blitar juga menawarkan banyak pilihan. Dan pada akhirnya harus ada yang diikhlaskan. Ada yang kecewa? Tentu saja. Namun adakah yang lebih penting saat ini dibandingkan dengan kebersamaan kita. Bukankah ke manapun akan menyenangkan, karena pada akhirnya kita akan bersama.

Yey, Blitar! Akhirnya kami akan ke Blitar. Empat laki-laki dan dua belas perempuan akan berangkat dengan kereta menuju Blitar. Sekali lagi, tak mudah menyiapkan perjalanan ini. Selalu saja ada drama yang menyisipi. Pemesanan tiket kereta ekonomi secara daring, membuat kami tak bisa segerbong. Tempat duduk terpisah-pisah. Bersyukurnya masih dapat tiket kereta di waktu-waktu terakhir, yang penting masih satu kereta kan. Asalkan bersama, kami tak gentar, hehe.

Stasiun Gubeng Surabaya, 26 November 2019, 17:00 WIB



Empat puluh lima menit sebelum keberangkatan, kami harus sudah berkumpul di stasiun. Sebenarnya kami terbagi menjadi dua kelompok. Karena sebagian lagi naik dari stasiun Wonokromo. Ada tiga orang yang akhirnya membatalkan perjalanan di luar tujuh belas orang yang berangkat. Fafa, sekretarisku yang harus merelakan tak bisa ikut karena harus dirawat inap karena sakit. Dan Mbak Ibad yang mendadak tidak jadi berangkat. Juga Upik, Sang Mak Karya yang memang jauh-jauh hari membatalkan karena ada agenda lain. Setelah semua berkumpul, kami memeriksa kembali barang bawaan. Memeriksa tiket, lalu masuk ke stasiun. Menuju ke jalur satu, tempat kereta akan menjemput kami yang sudah menunggu bersama penumpang lainnya. Kami menaiki kereta Penataran dengan tujuan akhir Blitar. Namun kami akan turun di stasiun Garum, satu stasiun sebelum pemberhentian terakhir. Harga tiket Rp15.000,00 per orang. Kereta ekonomi saat ini sudah mengalami banyak perubahan baik bila dibandingkan dengan yang dulu. Namun sayangnya, kenapa harus menyediakan tiket tanpa tempat duduk. Hal itu tentu saja membuat kereta terlihat sedikit sesak. Orang harus berdiri di ruang antara tempat duduk sepanjang kereta melaju. Bukankah itu tak nyaman untuk mereka sendiri. Bukankah lebih rapi, nyaman dan aman bila semua penumpang mendapatkan kursinya masing-masing.

Ada banyak hal yang kami lakukan di kereta. Membaca, mengaji, nonton film di ponsel, mengobrol, menguyah, mengunyah, menguyah dan akhirnya tertidur, hehe. Sesekali saat kereta terhenti, aku memutuskan berdiri dan berjalan menengok teman-temanku di tempat duduknya. Ternyata sama saja, mereka tertidur juga pada akhirnya. Lumayan juga, sekitar empat jam kami harus bertahan di dalam kereta untuk sampai ke stasiun Garum.

Stasiun Garum Blitar, 26 November 2019, 22:35 WIB

Kereta tiba dengan selamat dan tepat waktu. Kami bertujuh belas berkumpul kembali dan keluar dari stasiun. Malam ini, kami akan singgah untuk beristirahat di salah satu tempat tinggal kawan kami yang ada di Blitar, Mbak Putri. Mbak Putri, salah satu anggota FLP Surabaya yang saat ini berdomisili di Blitar bersama suaminya. Beruntungnya kami, ada tempat nyaman untuk melepas penat dan lelah setelah perjalanan. Sembari menunggu Mbak Putri yang sedang dalam perjalanan menjemput, beberapa kawan memutuskan untuk mampir di warung. Perut memang sudah terasa keroncongan, meskipun di kereta tadi sudah mengunyah, haha. Ketika aku hendak menyusul mereka ke warung, suara Mbak Ririn menyelamatkanku. Lebih tepatnya menyelamatkan isi dompetku, haha. Mbak Ririn, salah satu tim kaderisasi yang juga turut mempersiapkan perjalanan ini ternyata membawa bekal nasi dan beberapa potong ayam ungkep untuk dimakan bersama.

Selang tak berapa lama kemudian, mobil Mbak Putri datang. Tentu saja kami bertujuh belas tak bisa masuk begitu saja. Mas Rahmat, suami Mbak Putri, akhirnya mengantar terlebih dahulu beberapa kawan, kemudian menjemput lagi sebagian. Dan sebagian lagi memesan mobil lewat aplikasi daring. Rumah Mbak Putri ternyata tak jauh dari stasiun Garum. Naik mobil hanya lima belas menit.

Kranggan Permai Regency, 26 November 2019, 23:20 WIB

Rumah Mbak Putri, menjadi tujuan pertama saat sampai di Blitar. Kami disambut dengan baik. Mbak Putri rupanya sudah menyiapkan beberapa kudapan untuk dinikmati bersama. Kami membersihkan diri, menunaikan ibadah salat, dan tentu saja perut-perut yang kosong ini perlu melahap sesuatu. Bekal Mbak Ririn siap dinikmati, beberapa teman tadi sempat membungkus nasi goreng di dekat stasiun. Selain Mbak Ririn, ternyata Along juga membawa bekal. Kepala divisi media ini membawa nasi jagung dan beberapa lele goreng. Kami makan malam bersama. Selepas makan beberapa kawan memutuskan untuk istirahat. Anis, anggota divisi media nampaknya menemukan teman bercerita yang klop. Dipertemukan dengan Suci yang memang satu almamater dengannya. Suci, satu-satunya anggota divisi karya yang ikut rekreasi menulis kali ini. Beberapa lagi masih asyik bertukar cerita. Ada yang sibuk membaca buku, mengaji, mainan ponsel, dan aku sendiri masih sibuk mengupas salak. Ah mulutku, kapan berhenti mengunyah, haha. Sepertinya pukul dua pagi aku baru berhasil terlelap. Tenaga harus diisi kembali. Pukul empat pagi, kami sudah harus bangun kembali.

Azan subuh dan alarm berhasil membangunkan kami. Semua sibuk mengantre kamar mandi. Setelah selesai menunaikan segala kewajiban, hatiku tak tega melihat nasi ayam yang dibawa Mbak Ririn tadi malam tidak habis. Kuputuskan untuk memorak-porandakan kulkas dan dapur Mbak Putri. Bimsalabim, nasi goreng kecap siap dibawa untuk bekal perjalanan. Setelah semua sudah beres. Elf yang akan mengantar perjalanan kami datang pukul lima pagi. Sebelum naik ke elf, kami berfoto bersama di depan rumah Mbak Putri. Sayangnya Mbak Putri yang juga sedang hamil tujuh bulan belum bisa membersamai kami. Terima kasih Mbak Putri dan Mas Rahmat, atas segala kesediaan dan jamuan untuk kami, semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua. Tepat pukul enam pagi, mobil elf melaju mengantarkan kami ke tujuan pertama.


bersambung....


Bagian Dua, sudah bisa dibaca di sini loh, Sebentar di Blitar

Comments

  1. Mantap.....

    Perihal nasi goreng yang enak itu belum diceritakan ya..... Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah, dikit aja lah di bagian dua.
      Tahu jadi ajalah, resep rahasia dong, haha.

      Delete

Post a Comment

Hai, Kawan. Kamu bisa tinggalkan komentar, bila kamu suka tulisan ini yaaa ... :) Terima kasih sudah membaca.