Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Anak Kos Jangan Malas Memasak, Hemat Loh!


Memasak adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Gak harus perempuan loh, laki-laki juga harus bisa memasak. Lihat saja koki-koki yang ada di restoran, kebanyakan bahkan laki-laki. Ini membuktikan bahwa memasak bisa jadi tugas siapa saja. Sebagai anak kos yang sudah bertahan ngekos selama enam tahun, memasak bisa menjadi altenatif saya agar uang di kantong bisa dihemat. Kali pertama saya ngekos adalah di tahun kedua kuliah, sekitar tahun 2013. Sebelumnya saya tinggal di rumah Mas, makan jadinya ikut Mas, hehe. Karena kegiatan kampus semakin padat dan sering pulang malam, akhirnya saya memutuskan ngekos di daerah sekitaran kampus agar lebih dekat dan gak harus merepotkan Mas saya. Nah karena sudah memutuskan untuk hidup mandiri, saya harus pandai-pandai mengatur keuangan. Karena tiap bulan harus bayar kos. Awal-awal ngekos, makan selalu beli. Karena penjual makanan sangat bejibun, tinggal pilih menu. Lama-lama, beli terus kerasa juga kantong cepet banget tipisnya. Mau gak mau harus hemat. Untung saja dapur kos sangat memadai, cuma kadang-kadang memang harus ngantre dengan penghuni kos lainnya. Untungnya lagi, di kos saya ada kulkasnya. Jadi belanjaan bisa disimpan dengan aman untuk masak besok-besoknya. Namun sayangnya, karena kos bersama, gak jarang makanan yang sudah disimpan dengan baik di kulkas raib begitu saja. Tanpa tahu siapa yang sudah ngembat, duh duh duh. Akhirnya semangat memasak pudar kembali. Godaan makanan warung depan mulai beraksi, beli aku... beli aku... nasi penyetan mulai memanggil-manggil.

Ajaibnya, semangat memasak saya akan tumbuh kembali ketika kantong mulai menipis, hahaha. The power of kepepet gak hanya bisa diterapkan untuk mengerjakan tugas kuliah saja rupanya, tapi bagi saya bisa diterapkan juga pada masak-memasak. Memang kalau dihitung-hitung, masak sendiri dibandingkan dengan membeli makanan di luar, jauh membuat kita lebih hemat. Kalau sehari makan bisa menghabiskan sekitar dua puluh lima ribu untuk tiga kali makan. Kalau masak sendiri, uang dua puluh lima ribu itu bisa buat makan sepekan untuk masak lauknya. Asalkan beras sudah tersedia. Setelah lulus kuliah di tahun 2016, saya mengawali karir kerja sebagai pengajar bahasa Jerman di sebuah konsultan pendidikan luar negeri. Jarak tempat kerja dan kos lumayan jauh, sekitar lima belas kilometer. Namun saya tidak jua berminat pindah kos dekat kantor. Kapan-kapan alasannya saya ceritakan di tulisan lain, hehe. Tapi setelah setahun bekerja, saya akhirnya pindah kos juga, tapi masih di wilayah yang sama, hanya beda gang saja, haha. Kalau sebelumnya saya ngekos di gang empat, sekarang pindah ke gang tujuh, hihi. Saya sengaja pindah mencari kos yang penghuninya lebih sedikit agar suasana lebih tenang. Tapi di kos yang sekarang gak ada kulkas. Jadi gak bisa belanja buat sepekan. Setiap hari harus belanja sedikit demi sedikit. Kabar baiknya, saya jadi olahraga jalan kaki tiap hari untuk belanja ke tukang sayur di gang sebelah.

Okelah, karena masih jadi anak kos. Tak ada Mas yang masakin, Tak ada Ibu dengan masakannya yang selalu lezat, jadi harus semangat memasak sendiri. Biar bisa hemat dan bisa menabung, dan bisa terus belajar bikinin kamu masakan yang enak terus nanti, iya kamuuu. 

Kalau saat ini yang bisa saya masak adalah masakan yang sederhana-sederhana saja yang gak membutuhkan banyak waktu. Favorit saya adalah cah kangkung pedas, haha. Pada dasarnya semua masakah adalah favorit, karena saya suka makan segala hal yang bisa dimakan dan halal, hehe. Tapi karena sudah saya jelaskan pada tulisan kemarin yang bisa dibaca di sini Fokus Pada Pola Hidup Sehat.... maka saya yang sekarang mulai pilih-pilih makanan yang baik dan bermanfaat untuk tubuh saya. Anak kos jangan malas memasak, Yosh!!! Ayo memasak.



Sebenarnya dulu saya pernah bercita-cita memiliki restoran yang ada perpustakaannya. Tapi belum terwujud juga sampai sekarang, hehe. Gak apa-apa, mungkin Allah belum izinkan Ratna pegang amanah punya resto, hehe. Karena ya dari dulu memang suka sekali lihat orang masak, lihat makanan yang unik-unik. Gara-gara dulu saya juga sering baca komik dan animenya Cooking Master Boy, haha. Jadi punya angan-angan gitu deh.

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa