Terima Kasih untuk 26 Tahun

Image
Tiada lagi yang bisa diucap selain rasa syukur pada sang pencipta semesta. Allah mempercayakan 26 tahun untuk saya gunakan dengan sebaik-baiknya di dunia ini. Dan masih lebih lagi. Entah, tak ada yang tahu kapan angka itu terus bertumbuh atau berhenti di dunia. Banyak sekali nikmat yang Dia beri untuk saya, tak bisa dihitung jumlahnya, baik yang saya sadari maupun tidak. Dia juga telah begitu baik menutup aib-aib setiap hambanya, hingga kita dijauhkan dari hal-hal buruk. Tahun ini banyak sekali yang datang dan pergi sesuka hati, yang bertahan pun ada. Semua yang datang pasti akan pergi, tapi kita selalu punya kemungkinan untuk bertemu kembali, entah di kehidupan yang mana nanti. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah hidupku.  KELUARGA YANG PERTAMA Orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Bagi saya tak ada keluarga yang sempurna, yang ada adalah keluarga yang saling melengkapi. Keluarga tempat kembali dan keluarga adalah tempat yang akan selalu menerima kit

Bagaimana Aku Mengenal Buku



Sebenarnya bingung juga mau mengawali tulisan ini darimana. Orang bilang, cara menulis ya dengan memulainya. Oke, udah dua kalimat ... lanjut! Haha. Sebelum terjun ke dunia tulis-menulis seperti sekarang ini, dulunya aku lebih suka membaca aja. Tapi ternyata benar kata pepatah “Buku Adalah Jendela Dunia”. Dengan membaca, kita bisa tahu banyak hal. Dan akhirnya banyaknya pengetahuan yang kita serap dari membaca itulah yang bisa membuat kita lebih mudah menuangkan ide-ide dalam tulisan. Membaca sangat berkorelasi dengan menulis. Dua hal tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang tak saling berkaitan. Kalau ditanya apakah aku sangat mencintai buku? Tidak juga! Aku aku suka buku-buku dan sangat menghargainya. Terlepas dari apa saja genre yang sudah aku baca. Pun prosesku mencintai buku-buku tak terjadi begitu saja.

Keluarga bukan keluarga pegiat literasi. Tak ada banyak buku di rumahku. Saudara-saudaraku juga tak banyak yang gemar membaca. Beruntungnya aku dipertemukan dengan sosok-sosok luar biasa yang mengantarku ke gerbang literasi. Guru! Yaps, beberapa guru yang pernah kutemuilah yang mengenalkanku pada buku-buku. Juga beberapa teman yang memang menyukai buku. Uniknya bukan guru bahasa Indonesia yang notabene memang diharuskan lebih giat menggalakkan literasi yang memperkenalkanku pada asyiknya membaca buku. Sejak di tingkat dasar, aku menyukai matematika, karena guru yang mengajari matematika memiliki metode pengajaran yang bagus. Dan ternyata guru itu suka membaca buku. Beberapa kali beliau menyarankan beberapa judul buku yang menarik. Mulai dari buku cara ternak lele, buku cara bercocok tanam, hingga komik. Lucu memang, tapi dengan cara tersebut, aku jadi sering menghabiskan waktu istirahatku di pojokan kelas. Di satu sudut setiap kelas selalu ada pojok baca. Di sana disediakan satu meja berisikan beberapa tumpukan buku. Zaman itu, di sekolahku belum memiliki perpustakaan.

Memasuki sekolah tingkat pertama, aku masih suka matematika dan membaca. Entahlah, di tahap ini aku dipertemukan dengan guru-guru yang asyik dan suka membaca buku. Ditambah lagi aku memiliki teman-teman yang suka membaca buku. Pertama masuk SMP tahun 2006, seorang teman meminjamiku novel Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi. Kurasa itulah buku tebal berwujud novel yang pertama kali kubaca. Aku sangat senang sekali dan memintanya untuk meminjamiku beberapa bukunya. Ditambah lagi, ternyata temanku itu suka menulis. Dia pernah mengikuti lomba menulis cerpen dan mendapat juara. Aku bangga kepadanya, tapi aku belum tertarik untuk menulis pada waktu itu. Karena aku masih terlalu minder dengan hasil tulisanku. Dia juga menyukai budaya jepang, dari anime, sastra, darinya aku mengenal haiku—puisi pendek dar Jepang. Lulus SMP kami berpisah. Masuk ke tingkat sekolah menengah, aku masih menyukai matematika, tapi kali ini guruku tak menunjukkan tanda-tanda suka membaca buku. Yang ku maksud buku lain selain matematika tentunya. Hingga setiap istirahat, aku masih suka melakukan kebiasaanku, pergi ke perpustakaan mengerjakan soal matematika. Diselingi membaca novelet dan kumpulan cerpen. Nah dari perpustakaan SMA, aku bertemu dengan guru komputer yang juga suka matematika. Darinya aku bisa nambah jam belajar matematika. Dan ternyata, guru komputer itu suka membaca dan menyukai literasi, termasuk puisi.

Hingga lulus sekolah, aku memutuskan untuk masuk ke perguruan tinggi. Tentu saja aku memilih matematika yang begitu kusukai dan kubangga-anggakan. Tapi takdir berkata lain. Takdir mengantarkanku pada jurusan bahasa dan sastra Jerman. Haha. Gak ada hubungannya sama sekali dengan matematika. Tapi justru berawal dari sinilah, kecintaanku terhadap buku-buku semakin tumbuh. Mulai dari belajar sastra, mengikuti organisasi-organisasi yang berbau sastra, hingga akhirnya aku terjun ke dunia perbukuan. Ada banyak orang yang berperan besar atas apa yang kulakukan saat ini. Mereka yang dalam diam selalu kudoakan semoga jariyah ilmunya bemanfaat untukku dan orang-orang di sekitarku. Akhirnya kuucapkan, selamat hari buku nasional ... untuk semua orang yang mencintai buku-buku. Percayalah ... dengan buku, dunia ada di genggamanmu.

 

Ratna W. Anggraini

24 Ramadan 1441 H

#BERSEMADI_HARIKE-17

#InspirasiRamadan

#DiRumahAja

#FLPSurabaya

#Ratnawa


Comments

Popular posts from this blog

Sinopsis Film Pesantren Impian

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa