Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Memaknai Hari Pendidikan dengan Belajar di Rumah Selama Ramadan


Konsep belajar di rumah selama pandemi corona sudah diterapkan sejak pertengahan Maret. Semua siswa dari jenjang TK hingga tingkat SMA menjalani proses belajar secara daring. Bahkan mahasiswa pun demikian. Apalagi berbarengan dengan datangnya bulan Ramadan. Biasanya Ramadan panas-panasan dan fokus belajar di sekolah, kali ini belajar bisa dilakukan di rumah saja. Model pembelajaran secara daring bisa dibilang model pembelajaran yang baru di Indonesia. Meski keadaan masih mengkhawatirkan karena wabah corona, pembelajaran harus tetap dilakukan. Banyak kelebihan dan kekurangan tentunya dengan program tersebut. Faktanya, tidak semua siswa atau pengajar benar-benar siap dengan media yang digunakan. Karena dilakukan secara daring, otomatis harus tersedia jaringan internet yang baik. Pun itu bila pembelajaran daring yang dilakukan membutuhkan tatap muka. Apabila dalam bentuk penugasan, guru cukup mengirimkan tugas untuk dikerjakan di rumah, kemudian dikerjakan dalam waktu yang sudah ditentukan. Selanjutnya siswa mengumpulkan kembali tugas yang telah diberikan. Masalahnya tidak semua siswa atau guru memliki akses internet atau media belajar yang memadai.
Adanya pembelajaran secara daring ini, menjadi tantangan sendiri bagi pengajar, karena tidak bisa mengawasi secara langsung siswa yang sedang belajar. Sementara bagi orang tua, hal ini merupakan tugas tambahan karena juga harus turut mengawasi pembelajaran di rumah. Terutama pendidikan untuk tingkat TK dan SD. Dalam jenjang ini, guru harus benar-benar menyiapkan materi yang kreatif dan edukatif. Karena di usia tersebut, siswa TK dan SD mudah bosan bila diberikan tugas secara terus-menerus. Maka dalam menyiasati hal tersebut, penilaian harusnya tidak hanya berfokus pada akademik atau kognitif siswa, tetapi juga harus memperhatikan assesmen kompetisi dan pengembangan karakter. Psikologi siswa juga harus diperhatikan. Belajar di rumah biasanya tak terlalu efektif bila dibandingkan belajar di sekolah. Apalagi pembelajaran ini berlangsung hingga bulan Ramadan seperti ini. Bagi siswa SD yang masih belajar berpuasa, kekreatifan guru dalam memberikan tugas sangat mempengaruhi semangat belajar siswa, agar mereka bisa tetap fokus dan semangat meskipun dalam keadaan sedang berpuasa.
Biasanya saat Ramadan tiba, beberapa sekolah meliburkan siswanya untuk beberapa hari. Dan juga mengadakan kegiatan-kegiatan bernuasansa Ramadan seperti diadakannya pondok Ramadan. Bersekolah sambil puasa terkadang menggangu kegiatan belajar. Karena siswa harus tetap fokus belajar sekaligus fokus menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu—nyontek dikit ingat dosa. Nah dalam masa pandemi seperti ini, poin positifnya siswa bisa sedikit santai namun tetap serius mengerjakan tugas dari rumah. Namun pondok Ramadan yang menjadi agenda tahunan juga terpaksa harus ditiadakan. Kegiatan pondok Ramadan bisa diganti dengan meningkatkan ibadah harian siswa di rumah bersama keluarga. Misalnya guru bisa memberikan lembar kerja siswa muslim selama Ramadan di rumah. Target mengaji dan bentuk ibadah lainnya juga bisa ditetapkan. Bagi siswa nonmuslim bisa diberikan tugas seperti target membaca buku. Peran orang tua juga dibutuhkan dalam mendampingi siswa-siwa belajar di rumah.
Ramadan tahun ini memang terasa berbeda, namun kita tidak boleh mengeluh atau malas-malasan dalam belajar. Di rumah saja bukan berarti harus melulu sibuk menonton tayangan televisi, tapi juga saling belajar dan mengajar. Memperingati hari pendidikan nasional, mari kita lakukan yang terbaik untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan tetap belajar meski tak ke sekolah karena pandemi corona. Dengan tetap mengerjakan tugas dari guru meski tak diawasi secara langsung. Dengan tetap memberikan penilaian dan timbal balik atas tugas yang telah dikerjakan oleh siswa. Yuk, tetap semangat belajar di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Demi pendidikan Indonesia yang lebih baik. Demi generasi bangsa yang mencerahkan masa depan.


Ratna W. Anggraini
9 Ramadan 1441 H

#BERSEMADI_HARIKE-2
#InspirasiRamadan
#DiRumahAja
#FLPSurabaya
#Ratnawa

Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa