Semangat Ramadan Tak Pernah Padam

Image
Banyak yang bilang, Ramadan tahun ini berbeda. Karena pandemi dan adanya wabah virus korona, kegiatan di masjid dibatasi bahkan ditiadakan. Tak hanya kegiatan di masjid, tapi hampir semua kegiatan yang membuat kerumunan diminimalkan. Semua ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar memutus tali penyebaran virus korona. Tetapi bagiku, semangat Ramadan tak pernah berubah. Semangat Ramadan tak pernah padam. Justru di Ramadan tahun ini kuperhatikan semangat para saudara muslimku semakin bertambah. Karena semua kegiatan dilakukan di rumah saja, kini masing-masing rumah setidaknya memiliki seorang imam untuk tarawih. Yah benar, masjid memang dikosongkan, tetapi ibadah tentu saja harus tetap dilaksanakan. Tak ada yang namanya ibadah diberhentikan karena korona. Justru orang-orang semakin gencar menghidukan cahaya Ramadan di rumahnya masing-masing. Tak hanya itu saja, tadarus Alquran pun masih tetap menggema. Bahkan lebih keras di rumah-rumah. Tak hanya tadarus bersama keluarga. Beberapa saudara

Menuju Akad Tak Sekadar Punya Tekad


April lalu saya ikut PO (Pre Order) bukunya Mbak Syilviya Romadika yang terbaru, Mendekap Harap Menuju Akad. Dua teman saya yang di Mojokerto juga ikut PO. Setelah beberapa pekan, dua teman saya mengabarkan kalau buku sudah datang di rumah masing-masing. Buku saya belum sampai di Surabaya. Oh mungkin karena ada PSBB, jadi pengiriman terlambat, pikir saya. Oke, sabar. Sampai beberapa hari menunggu, teriakan “Pakeeet” di depan pagar rumah tak kunjung terdengar. Ternyata setelah dikonfirmasi, saya hanya menuliskan alamat pengiriman tanpa menuliskan nama kota, dan adminnya pembelian buku inisiatif menuliskan kota tujuan Mojokerto, haha. Akhirnya paket dikembalikan ke pengirim, karena alamat tak terdeteksi di Mojokerto. Barakallah mimin Zul Bookstore, semoga sehat selalu, maafin saya yang kurang teliti, hehe. Ini kali ketiga drama pembelian buku yang saya alami. Tapi syukur alhamdulillah, kemarin lusa buku akhirnya datang juga. Pagi ini mumpung tanggal merah, saya sempatkan membacanya. Karena biasanya meski di rumah saja, masih harus tetap mengajar dan membuat soal untuk siswa secara daring. Waktu membaca jadi tak terlalu luang.

Apalagi setelah mendapatkan bukunya, teman saya, Putri, mengabari. “Mbak Na, bukunya Mbak Syilvi sudah kubaca, bukunya bikin perasaanku campur aduk, sampai nangis aku bacanya.” Begitu yang dia sampaikan. Otomatis diri ini jadi penasaran. Langsung pagi tadi saya selesaikan baca buku Mbak Syilvi dalam sekali baca. Butuh dua jam untuk bisa menyelesaikannya. Memang benar kata teman saya, isi buku ini sangat mengaduk perasaan. Mungkin karena yang baca jomlo alias masih dalam tahap ikhtiar menjemput jodoh. Hehe. Karena buku ini bertema tentang proses menuju pernikahan, seperti judulnya.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Satoe, cetakan pertama, April 2020. Tebalnya 160 halaman. Berisi 13 bab plus prolog dan epilog yang membahas tentang kisah inspiratif seputar pernikahan. Mulai dari proses penantian, proses menuju akad, hingga kehidupan setelah pernikahan. Bagi saya pribadi, membaca bab-bab awal di buku ini seperti membaca kisah saya sendiri, hehe. Banyak miripnya, haha entahlah. Jadi mengenang sebentar kisah masa lalu yang pernah singgah. But life must go on.

Mbak Syilviya menuliskan kisah hidupnya dengan sangat apik, sehingga banyak hikmah yang bisa kita diambil. Tak hanya berani menceritakan kisah hidupnya yang dramatis atau pun romantis, tetapi juga menyuguhkan kisah-kisah Rasullullah dan para sahabat yang ternyata juga pernah mengalami penolakan dalam proses menuju pernikahan. Disertai pula dengan hadis-hadis yang mendukung.

Menikah adalah salah satu bentuk ibadah yang panjang. Tak hanya sekadar butuh tekad untuk menuju akad, tapi harus punya bekal yang cukup. Tak hanya materi, tapi juga ilmu. Tak hanya mau, tapi juga mampu. Allah akan mampukan siapa yang Dia pilih. Maka apa saja yang sudah dilakukan agar kita menjadi pilihan Allah? Libatkan Allah, libatkan orang saleh untuk setiap proses menuju halal. Semua akan indah pada waktunya, waktunya Allah. Itulah inti yang berhasil saya tangkap dari buku ini.

Ada satu bagian yang akhirnya berhasil membuat saya meneteskan air mata. Bukan kisah pernikahan yang gagal, bukan karena kisahnya yang mirip dengan kisah pribadi saya, tapi tepat di halaman 136. Mengisahkan seorang ibu yang begitu bahagia menyambut pernikahan anaknya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membantu persiapan sang anak, hingga beliau luput dan mengesampingkan kesehatannya. Akhirnya beliau jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Begitulah sebuah pernikahan, tak hanya tentang dua sejoli, tapi juga orang tua dan keluarga. Orang tua mana yang tak bahagia bilamana anaknya akan menikah. Orang tua pasti menginginkan dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Inilah buku tentang pernikahan yang dikemas dengan baik. Berhasil mempora-porandakan perasaan pembacanya dan sarat akan ilmu-ilmu juga tips tentang kehidupan seputar pernikahan.

Alhamdulillah, punya bacaan baru, nambah bekal ilmu sambil terus ikhtiar, hehe. Semoga Allah mampukan, aamiin.

Teruntuk my sister, Syilviya Romandika … terima kasih sudah menulis buku ini. Ich hab dich lieb.



Ratna W. Anggraini

14 Ramadan 1441 H

 

#BERSEMADI_HARIKE-7

#InspirasiRamadan

#DiRumahAja

#FLPSurabaya

#Ratnawa

#SemangatMenujuHalalNa eh

#SemangatMenuntutIlmu hehe :)

 


Comments

  1. #SemangatMenujuHalalMbakNa \^0^/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Kak Shofi, lama tak jumpa... Kelamaan bertapa menuntut ilmu nih, hihi. Barakallahu fii ilmi.

      Delete

Post a Comment

Hai, Kawan. Kamu bisa tinggalkan komentar, bila kamu suka tulisan ini yaaa ... :) Terima kasih sudah membaca.

Popular posts from this blog

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa