Hadirnya Bisa Kurasa

  

Ada yang bilang, cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Mungkin bisa dibilang, aku menjadi bagian dari kebanyakan orang itu.

 

Bapak … aku memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Baiklah, aku bukan satu-satunya anak di keluarga ini. Menjadi seorang bungsu, nyatanya menjadi takdir yang sudah digariskan Rabb untukku. Siapa sangka, di usia yang sudah tidak lagi muda, Allah menitipkan janin di perut ibu.

22 Ramadan 1415, saat azan Magrib berkumandang, Bapak tak menyegerakan untuk berbuka puasa. Beliau bahkan mungkin lupa kalau sedang berpuasa. Bibirnya terlalu sibuk merapalkan zikir dan doa-doa untuk seorang wanita yang ia cintai, yang sedang berjuang di antara hidup dan mati. Dari dalam kamar dengan bantuan bidan desa, ibu sedang berjuang untuk melahirkan seorang bayi ke dunia. Tidak mudah melahirkan di usia empat puluh tahun. Dalam salatnya di ruangan sebelah, Bapak tak berhenti berdoa. Sementara itu suara perjuangan ibu tak lagi terdengar kencang. Bidan memanggil bapak, mengabarkan sesuatu hal yang nampaknya kurang baik. Sang bayi telah lahir … tanpa tangisan, tubuhnya bewarna biru keungu-unguan. Wajah ibu sudah pucat pasih, hampir kehabisan tenaga. Bapak pun tak kalah pucat. Bayi itu harus menangis, agar ia bisa beradaptasi dengan dunia untuk kali pertama. Jika tangisan itu tak kunjung pecah, maka sesuatu yang tak diharapkan akan membuat semua orang bersedih. Bapak berdoa dan mengelus bayi itu, meminta bantuan pada bidan, berharap sang bidan bisa melakukan segala cara untuk menyelamatkan sang bayi. Bidan menepuk-nepuk si bayi, melakukan segala cara untuk menolong bayi itu. Butuh beberapa menit untuk membuat jantung semua orang berhenti berdegup kencang, hingga akhirnya tangisan pertama si bayi pecah juga. Hingga akhirnya bapak menyematkan sebuah kata “Wahyu” pada deretan nama yang diberikan pada bayi itu. Sebagai pengingat, doa, dan rasa syukur untuk kelahiran sang bayi.

Begitulah kira-kira cerita dari ibu dan bapak di suatu sore, ketika aku sedang menangis karena seorang anak tetangga yang usil mengolokku dengan sebutan “anak yang tak diharapkan”, sebab jarak kelahiranku dengan para kakakku sangat jauh, bahkan ada yang mencapai dua puluh tahun jaraknya.

“Di dunia ini, ayah ibu yang tak menganggap hadirnya seorang anak dengan penuh syukur dan penuh cita, tak pantas disebut sebagai orang tua. Artinya mereka tak bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah,” begitu kata bapak waktu itu.

Aku yang waktu itu masih bocah mencoba mencerna kisah kelahiranku sendiri, belajar bersyukur bahwa orang tuaku pun selalu bersyukur dengan kelahiran anak-anaknya dan mencintai setiap anaknya dengan caranya masing-masing.

Tentu saja aku harus bersyukur, memiliki kedua orang tua lengkap, bahkan banyak saudara, saat aku lahir. Sementara aku tahu, di luar sana mungkin ada yang tak sama denganku. Semua orang memiliki kisahnya masing-masing. Maka aku akan mencoba sedikit menceritakan kisahku, yah semoga ini bisa menjadi pengingat untukku hingga di kemudian hari.

Kalau dipikir-pikir, aku ingat saat menangis lagi, kali ini aku tak menangis karena olokan. Aku merengek pada ibu, sebab aku tak punya teman bermain di rumah. Aku seorang bocah dengan banyak kakak, tapi mereka semua tak ada di rumah. Mereka yang sudah beranjak dewasa tentu saja lebih sibuk dengan kehidupannya, bekerja. Yah, mereka semua sudah tak ada lagi yang berada di usia sekolah, Hanya aku … hanya aku yang sekolah. Hanya aku anak orang tuaku, yang masih sibuk bermain-main tapi masih suka merengek karena kesepian di rumah. Semua kakakku telah melebarkan sayap, merantau di kota lain. Bahkan bapak, bapak tak setiap hari di rumah. Bapak bekerja di luar kota dan pulang sepekan sekali. Bila kesal, aku akan merengek pada ibu, protes pada ibu, karena bapak tak seperti bapak teman-temanku yang selalu pulang ke rumahnya lagi saat petang datang. Sementara aku harus menunggu enam hari untuk bertemu bapak.

“Hari Sabtu, bapak pulang!”

Kalimat itu adalah angin segar. Hingga akhirnya aku selalu menanti-nanti hari Sabtu. Bapak akan pulang dan tak pernah lupa membawakan oleh-oleh untukku. Rasanya Sabtu adalah hari paling bahagia untukku menumpahkan rindu yang sudah tertumpuk berhari-hari untuk bapak. Pada akhirnya aku tak bisa berharap bisa bertemu dengan bapak setiap hari. Tapi tak mengapa, aku bisa bertemu lagi dengannya setelah menunggu enam hari. Setidaknya bapak selalu memenuhi janjinya untuk bertemu di hari Sabtu denganku. Hingga akhinya … kini kami hanya bisa bertemu dalam doa. Waktu sungguh cepat berlalu, manusia tak selamanya ada di dunia, tak terasa hampir satu tahun, Sabtuku tak bisa lagi bersama bapak. Tapi rasanya suaranya masih bisa kudengar. Hadirnya seakan bisa kurasakan, bahkan ketika aku menutup mata.

Surabaya, 12 November 2012

Selamat hari ayah, Bapak!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinopsis Film Pesantren Impian

Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa

Mengenal Karakteristik Pembelajaran Abad 21